LAPORAN
PRAKTIKUM
SISTEM
TEKNOLOGI BUUDIDAYA
DI
TAMBAK DELEGAN KABUPATEN GERSIK
OLEH
:
ISMAIL
TUEN LAMABLAWA
( 2011.02.5.0008 )
JURUSAN PERIKANAN
FAKULTAS TEKNIK DAN ILMU
KELAUTAN
UNIVERSITAS HANG TUAH
SURABAYA
2014
I. PENDAHULUAN
1.1. Latar
Belakang
Wilayah
pesisir memiliki beraneka ragam sumberdaya yang memungkinkan pemafaatannya
secara berganda. Pemanfaatan sumberdaya wilayah pesisir, perlu dikelola dengan
mempertimbangkan hubungan antara setiap sumberdaya dalam ekosistem wilayah
pesisir atau memperhatikan ekosistem tersebut secara menyeluruh. Pada kawasan
pesisir pemanfaatan lahan telah dilakukan untuk berbagai kepentingan salah
satunya adalah pertambakan.
Tambak
adalah suatu ekosistem buatan manusia, merupakan lahan dekat pantai yang
dibendung dengan pematang-pematang keliling sehingga membentuk sebuah kolam
berair payau. Menurut Murahman (1996) tambak merupakan sumber daya buatan
berbentuk petakan tambak berisi air payau yang digunakan untuk memelihara ikan.
Sedangkan Anggoro (1983) menyatakan bahwa tambak merupakan suatu ekosistem
perairan di wilayah pesisir yang dipengaruhi oleh teknis budidaya, tata guna
lahan dan dinamika hidrologi perairan di sekitarnya.
Produksi
hayati perairan tambak sangat ditentukan oleh kesuburan tambak dimana
merupakan modal dasar bagi kelangsungan perekonomian serta penopang
kelancaran proses-proses sub sistem pada ekosistem perairan tambak secara
keseluruhan. Pada produktivitas tambak ditentukan oleh sarana produksi dan
kualitas habitat, dimana habitat tambak selalu mengalami perubahan sesuai
dengan keseimbangan dinamik faktor lingkungan yang mempengaruhinya (Tseng,
1987; Zaidi, 1992).
Salah satu syarat dalam budidaya payau adalah pemilihan
lokasi. Hal ini dikarenakan pemilihan lokasi merupakan langkah awal dalam
budidaya. Pemilihan lokasi didasarkan pada evaluasi kesesuaian fisik serta
evaluasi sosial ekonomi amsyarakat. Evaluasi kesesuaian fisik meliputi tekstur
tanah, pH tanah, bahan organic tanah, salinitas, suhu, kecerahan, derajat
keasaman (pH) air, oksigen terlarut (DO), ammonia (NH3), Nitrit (NO2), Nitrat
(NO3), BOD (Biological Oxygen Demand), Plankton, Iklim, Sumber Air, Pasang
Surut, serta Topografi dan Elevasi (Supratno T, 2006). Evaluasi sosial ekonomi
masyarakat ditujukan untuk mengetahui ekonomi mayarakat pesisir. Hal ini di
tujukan agar nantinya kegiatan tambak tidak berbenturan dengan kepentingan
masyarakat sekitar. Untuk mendapatkan data mengenai kondisi masyarakat pesisir
dapat dilakukan dengan membuat survey langsung terhadap masyarakat dan
mencari data sekunder seperti data monografi dari instansi terkait seperti
desa, kecamatan, maupun dinas kelautan dan perikanan daerah.
Air merupakan sumberdaya alam yang diperlukan untuk hajat hidup orang banyak, bahkan oleh semua makhluk hidup. Oleh karena itu, sumberdaya air harus dilindungi agar tetap dapat dimanfaatkan dengan baik oleh manusia serta makhluk hidup yang lain. Pemanfaatan air untuk berbagai kepentingan harus dilakukan secara bijaksana, dengan memperhitungkan kepentingan generasi sekarang maupun generasi mendatang. Aspek penghematan dan pelestarian sumberdaya air harus di tanamkan pada segenap pengguna air (Effendi, 2003).
Kualitas air secara umum menunjukkan mutu atau kondisi air yang dikaitkan dengan suatu kegiatan atau keperluan tertentu Dengan demikian, kualitas air akan berbeda dari suatu kegiatan ke kegiatan lain, sebagai contoh: kualitas air untuk keperluan irigasi berbeda dengan kualitas air untuk keperluan air minum. Air yang jernih bukan berarti air yang baik bagi ikan, karena jernih bukan satu-satunya sarat air berkualitas bagi ikan.Sering dijumpai ikan hidup dan berkembang dengan “subur” justru pada air yang bagi manusia menimbulkan kesan jorok.Ikan hidup dalam lingkungan air dan melakukan interaksi aktif antara keduanya.
Ikan-air boleh dikatakan sebagai suatu sistem terbuka dimana terjadi pertukaran materi (dan energi), seperti oksigen (O2), karbon dioksida (CO2), garam-garaman, dan bahan buangan.Pertukaran materi ini terjadi pada antarmuka (Interface) ikan-air pada bahan berupa membran semipermeabel yang terdapat pada ikan. Kehadiran bahan-bahan tertentu dalam jumlah tertentu akan mengganggu mekanisme kerja dari membran tersebut, sehingga ikan pada akhirnya akan terganggu dan bisa tewas.
Kualitas Air adalah istilah yang menggambarkan kesesuaian atau kecocokan air untuk penggunaan tertentu, misalnya: air minum, perikanan, pengairan/irigasi, industri, rekreasi dan sebagainya. Peduli kualitas air adalah mengetahui kondisi air untuk menjamin keamanan dan kelestarian dalam penggunaannya. Kualitas air dapat diketahui dengan melakukan pengujian tertentu terhadap air tersebut. Pengujian yang biasa dilakukan adalah uji kimia, fisik, biologi, atau uji kenampakan (bau dan warna) (ICRF,2010).
Air merupakan sumberdaya alam yang diperlukan untuk hajat hidup orang banyak, bahkan oleh semua makhluk hidup. Oleh karena itu, sumberdaya air harus dilindungi agar tetap dapat dimanfaatkan dengan baik oleh manusia serta makhluk hidup yang lain. Pemanfaatan air untuk berbagai kepentingan harus dilakukan secara bijaksana, dengan memperhitungkan kepentingan generasi sekarang maupun generasi mendatang. Aspek penghematan dan pelestarian sumberdaya air harus di tanamkan pada segenap pengguna air (Effendi, 2003).
Kualitas air secara umum menunjukkan mutu atau kondisi air yang dikaitkan dengan suatu kegiatan atau keperluan tertentu Dengan demikian, kualitas air akan berbeda dari suatu kegiatan ke kegiatan lain, sebagai contoh: kualitas air untuk keperluan irigasi berbeda dengan kualitas air untuk keperluan air minum. Air yang jernih bukan berarti air yang baik bagi ikan, karena jernih bukan satu-satunya sarat air berkualitas bagi ikan.Sering dijumpai ikan hidup dan berkembang dengan “subur” justru pada air yang bagi manusia menimbulkan kesan jorok.Ikan hidup dalam lingkungan air dan melakukan interaksi aktif antara keduanya.
Ikan-air boleh dikatakan sebagai suatu sistem terbuka dimana terjadi pertukaran materi (dan energi), seperti oksigen (O2), karbon dioksida (CO2), garam-garaman, dan bahan buangan.Pertukaran materi ini terjadi pada antarmuka (Interface) ikan-air pada bahan berupa membran semipermeabel yang terdapat pada ikan. Kehadiran bahan-bahan tertentu dalam jumlah tertentu akan mengganggu mekanisme kerja dari membran tersebut, sehingga ikan pada akhirnya akan terganggu dan bisa tewas.
Kualitas Air adalah istilah yang menggambarkan kesesuaian atau kecocokan air untuk penggunaan tertentu, misalnya: air minum, perikanan, pengairan/irigasi, industri, rekreasi dan sebagainya. Peduli kualitas air adalah mengetahui kondisi air untuk menjamin keamanan dan kelestarian dalam penggunaannya. Kualitas air dapat diketahui dengan melakukan pengujian tertentu terhadap air tersebut. Pengujian yang biasa dilakukan adalah uji kimia, fisik, biologi, atau uji kenampakan (bau dan warna) (ICRF,2010).
Pakan
salah satu kebutuhan wajib yang harus dipenuhi dalam kebiatan budidaya. Dewasa
ini peran pakan sangat central dan bahkan menjadi factor penentu kesuksesan
budidaya. Biaya yang dikeluarkan untuk kegiatan budidaya bisa mencapai 80 %
dari total biaya keseluruhan. Melihat pentingnya peran pakan dalam kegiatan
budidaya maka diperlukan manajemen yang baik dalam pengelolaan pakan dan
pemberian pakan pada kultivan yang dibudidayakan.
Crustaceae merupakan biota air yang memiliki kebiasaan hidup didasar. Sehingga
dalam pemberiaan pakan diperlukan metode tersendiri. Selain itu dalam kegiatan
pemberian pakan udang cukup sulit untuk mengetahui apakah pakan yang diberikan
cukup atau kurang atau bahkan berlebih. Disinilah peran sampling diperlukan.
1.2. Maksud
Maksud
dilaksanakannya praktikum Sistem teknologi budidaya, Manajemen Kualitas
Air dan Manajemen Pemberian Pakan ini
adalah untuk mengetahui input,proses,output, Pola budidaya, Sistem
Pengairan,Teknologi yang di gunakan, Penanganan penyakit, Bioscurity, Bioremediasi, parameter kualitas air baik secara fisika,
kimia dan biologi( Kecerahan,Salinitas, pH, Oksigen terlarut,Amonia).
Perhitungan
Pakan seperti Feeding level, Feeding time, Feeding frekuency,FCR, Effisiensi
pakan dan Pertumbuhan berdasarkan pola
diurnal
serta jumlah dan jenis organisme didalamya dan juga menentukan kesuburan perairan pada jenis kolam yang berbeda.
serta jumlah dan jenis organisme didalamya dan juga menentukan kesuburan perairan pada jenis kolam yang berbeda.
1.3. Tujuan
Tujuan
praktikum ini adalah sebagai berikut:
1.
Mengetahui lokasi yang dapat dijadikan lokasi tambak
2.
Mengetahui konstruksi tambak yang akan digunakan untuk budidaya.
3.
Mengetahui cara pembudidaya mempersiapkan lahan untuk budidaya.
4.
Mengetahui teknik yang digunakan untuk membudidayakan udan vaname.
5.
Mengetahui pola pemberian pakan.
II. TINJAUAN PUSTAKA
2.1.
Deskripsi Udang Vaname (Panaeus Vannamei)
2.1.1.
Taksonomi dan Anatomi Udang Vaname
Nama lain dari Udang Vaname
adalah Pacific White Shrimp, West Coast White Shrimp. Taksanomi udang vanname
adalah sebagai berikut:
Kingdom : Animalia
Subkingdom : Metazoa
Filum : Arthropoda
Kelas : Crustasea
Subkelas : Malacostraca
Ordo : Decapoda
Subordo : Dendrobrachiata
Famili : Penaeidae
Genus : Penaeus Gambar 1. Penaeus vannamei
Subgenus : Litopenaeus
Spesies : Litopenaeus vannamei
Kingdom : Animalia
Subkingdom : Metazoa
Filum : Arthropoda
Kelas : Crustasea
Subkelas : Malacostraca
Ordo : Decapoda
Subordo : Dendrobrachiata
Famili : Penaeidae
Genus : Penaeus Gambar 1. Penaeus vannamei
Subgenus : Litopenaeus
Spesies : Litopenaeus vannamei
2.1.2. Morfolgi Udang Vaname
Secara umum
tubuh udang penaeid dibagi menjadi dua bagian, yaitu bagian kepala yang menyatu
dengan bagian dada (Cephalothorax) dan bagian tubuh sampai ekor (Abdomen).
Bagian cephalothorax terlindung oleh kulit chitin yang disebut carapace. Bagian
ujung cephalotorax meruncing dan bergerigi yang disebut rostrume. Udang putih
(Litopenaeus vannamei) memiliki 2 gigi di bagian ventral rostrum sedangkan di
bagian dorsalnya memiliki 8 sampai 9 gigi (Wyban dan Sweene, 1991).
Udang Vanamei memiliki tubuh yang
beruas-ruas dan tiap ruasnya terdapat sepasang anggota badan yang umumnya
bercabang dua atau biramus. L. vannamei memiliki
karakteristik kultur yang unggul. Berat udang ini dapat bertambah lebih dari 3
gram tiap minggu dalam kultur dengan densitas tinggi (100 udang/m2).
Berat udang dewasa dapat mencapai 20 gram dan diatas berat tersebut, Penaeus
vannamei tumbuh dengan lambat yaitu sekitar 1 gram/ minggu. Udang betina
tumbuh lebih cepat daripada udang jantan. L. vannamei memiliki
toleransi salinitas yang lebar, yaitu dari 2 – 40 ppt, tapi akan tumbuh cepat
pada salinitas yang lebih rendah, saat lingkungan dan darah isoosmotik (Wyban dan Sweene, 1991).
2.1.3. Habitat dan Daur Hidup
Habitat udang
berbeda-beda tergantung dari jenis dan persyaratan hidup dari
tingkatan-tingkatan dalam daur hidupnya. Pada umumnya udang bersifat bentis
dan hidup pada permukaan dasar laut. Adapun habitat yang disukai oleh udang
adalah dasar laut yang lumer (soft) yang biasanya campuran lumpur dan
pasir. Lebih lanjut dijelaskan, bahwa induk udang putih ditemukan diperairan
lepas pantai dengan kedalaman berkisar antara 70-72 meter (235 kaki). Menyukai
daerah yang dasar perairannya berlumpur. Sifat hidup dari udang putih adalah catadromous
atau dua lingkungan, dimana udang dewasa akan memijah di laut terbuka. Setelah
menetas, larva dan yuwana udang putih akan bermigrasi kedaerah pesisir pantai
atau mangrove yang biasa disebut daerah estuarine tempat nurseri groundnya,
dan setelah dewasa akan bermigrasi kembali ke laut untuk melakukan kegiatan
pemijahan seperti pematangan gonad (maturasi) dan perkawinan (Wyban dan
Sweeney, 1991).
Hal ini sama seperti pola hidup udang
penaeid lainnya, dimana mangrove merupakan tempat berlindung dan mencari
makanan setelah dewasa akan kembali ke laut (Elovaara, 2001).Pada udang putih,
ciri-ciri telur yang telah matang adalah dimana telur akan terlihat berwarna
coklat keemasan (Wyban dan Sweeney,1991).
Udang putih mempunyai carapace
yang transparan, sehingga warna dari perkembangan ovarinya jelas terlihat. Pada
udang betina, gonad pada awal perkembangannya berwarna keputih-putihan, berubah
menjadi coklat keemasan atau hijau kecoklatan pada saat hari pemijahan
(Lightner et al., 1996).
Telur jenis udang ini tergantung dari
ukuran individu, untuk udang dengan berat 30 gram sampai dengan 45 gram telur
yang di hasilkan 100.000 sampai 250.000 butir telur. Telur yang mempunyai
diameter 0,22 mm, cleaveage pada tingkat nauplis terjadi kira-kira 14
jam setelah proses bertelur (Anonymous, 1979).
2.1.4. Siklus Hidup
Seperti kelompok crustacea lainnya
udang Vanamei memiliki siklus hidup yang sama yaitu :
1.
Nauplius
Stadia Nauplius terbagi atas enam tahapan yang lamanya berkisar 46-50 jam untuk Litopenaeus vannamei, belum memerlukan pakan karena masih mempunyai kandungan kuning telur.
Stadia Nauplius terbagi atas enam tahapan yang lamanya berkisar 46-50 jam untuk Litopenaeus vannamei, belum memerlukan pakan karena masih mempunyai kandungan kuning telur.
2.
Zoea
Stadia zoea terbagi atas tiga tahapan, berlangsung selama kira-kira 4 hari. Stadia zoea sangat peka terhadap perubahan lingkungan terutama kadar garam dan suhu air. Zoea mulai membutuhkan pakan berupa fitoplankton (Skeletonema sp.).
Stadia zoea terbagi atas tiga tahapan, berlangsung selama kira-kira 4 hari. Stadia zoea sangat peka terhadap perubahan lingkungan terutama kadar garam dan suhu air. Zoea mulai membutuhkan pakan berupa fitoplankton (Skeletonema sp.).
3.
Mysis
Stadia mysis terbagi atas tiga tahapan, yang lamanya 4-5 hari. Bentuk udang stadia mysis mirip udang dewasa, bersifat planktonis dan bergerak mundur dengan cara membengkokkan badannya. Udang stadia mysis mulai menggemari pakan berupa zooplankton, misalnya Artemia salina.
Stadia mysis terbagi atas tiga tahapan, yang lamanya 4-5 hari. Bentuk udang stadia mysis mirip udang dewasa, bersifat planktonis dan bergerak mundur dengan cara membengkokkan badannya. Udang stadia mysis mulai menggemari pakan berupa zooplankton, misalnya Artemia salina.
4.
Post Larva
Stadia larva ditandai dengan tumbuhnya pleopoda yang berambut (setae) untuk renang. Stadia larv bersifat bentik atau organisme penghuni dasar perairan, dengan pakan yang disenangi berupa zooplankton.
Stadia larva ditandai dengan tumbuhnya pleopoda yang berambut (setae) untuk renang. Stadia larv bersifat bentik atau organisme penghuni dasar perairan, dengan pakan yang disenangi berupa zooplankton.
Gambar Siklus hidup udang Penaeid
(Stewart, 2005)
III. METODE PRAKTIKUM
3.1. Waktu dan Tempat Praktikum
Praktikum
Sistem Teknologi Budidaya, Manajemen Kualitas Air dan Manajemen Pemberian
Pakan ini dilaksanakan pada hari Sabtu,
tanggal 21 juni 2014 di kolam tambak
udang vaname di kecamatan delegan kabupaten gersik
3.2. Metode Praktikum
Metode
praktikum yang dilakukan pada praktikum ini adalah metode survey, dan wawancara
yakni pengamatan yang dilakukan secara langsung dilapangan dan pengamatan
terhadap sample objek yang di lihat secara langsung di lapangan
3.2. Alat
dan Bahan Praktikum
Alat-alat yang digunakan pada praktikum ini adalah
:
1.
Termometer meter berfungsi untuk mengukur suhu
perairann.
2.
Secchi disc berfungsi untuk mengukur kedalaman dan
kecerahan perairan.
3.
pH paper berfungsi mengukur derajat keasaman (pH) suatu
peran
4.
Refraktometer berfungsi untuk mengukur salinitas suatu
peraira
5.
Amonia Meter bberfungsi untuk mengukur kadar amonia
6.
Kamera berfungsi untuk mendokumentasikan kegiatan
praktikum.
7.
Alat tulis berfungsi sebagai tempat mencatat hasil
praktikum dan wawancara.
3.3.
Pelaksanaan Praktikum
3.3.1.Temperatu(suhu)
Dicelupkan
thermometer kedalam badan perairan, dibaca suhu yang tertera pada skala
alkohol, pembacaan suhu harus dilakukan didalam badan perairan dengan cara
memegang tali thermometer.
3.3.2. Kecerahan
3.3.2. Kecerahan
Diturunkan Secchi Disc sampai
hampir tidak tampak, dicatat kedalamannya, diturunkan sedikit lagi hingga tidak
tampak, kemudian diangkat secara perlahan, begitu tampat dicatat kedalamannya,
rata-rata dari kedalaman tersebut merupakan nilai kecerahan, dinyatakan dalam
satuan centimeter.
3.3.3. pH
(Derajat Keasaman)
Dicelupkan pH
paper pada perairan selama 1 menit kemudian dicocokan warna pH paperdengankotakskala
warna pH.
3.3.4. Salinitas
3.3.4. Salinitas
Dibersihkan permukaan refraktometer
menggunakan tissue. Diambil air sebanyak 1 tetes menggunakan jari dan
diletakkan air tersebut diatas permukaan refraktometer lalu tutup dengan
penutup alat tersebut. Dibaca angka yang tertera di layar yang merupakan nilai
salintas dari perairan
3.3.5. Amonia
Amonia merupakan hasil ekskresi atau pengeluaran
kotoran udang yang berbentuk gas. Selain itu, amonia bisa berasal dari pakan
yang tidak termakan oleh udang sehingga larut dalam air. Amonia baik yang
berasal dari ekskresi udang maupun hasil penguraian kotoran zat padat (faeces) dan sisa-sisa pakan udang,
selanjutnya dioksidasi oleh bakteri autotrof khususnya Nitrosomonas sp. dan Nitrobacter
sp. Amonia tersebut dioksidasi olek bakteri Nitrosomonas sp. menjadi nitrit, kemudian nitrit yang terbentuk
dioksidasi lebih lanjut oleh bakteri Nitrobacter
sp. dalam proses nitrifikasi. Nitrit beracun bagi udang, karena mengoksidasi Fe2+
dalam hemoglobin, sehingga kemampuan darah untuk mengikat oksigen sangat rendah.
Toksisitas dari nitrit yaitu mempengaruhi transport oksigen dalam darah dan
merusak jaringan. Kadar nitrit 6,4 ppm NO2-N dapat menghambat
pertumbuhan udang putih sebanyak 50 % (Wickins, 1976 dalam Arifin, 2005)
3.3.6. Wawancara
3.3.6. Wawancara
Dilakukan
wawancara dengan pihak yang terkait yaitu pemilik tambak udang dan teknisi
tambak udang yang meliputi hal-hal mengenai kelayakan lokasi tambak, konstruksi
tambak, persiapan tambak, budidaya udang vannamei, dan analisis usaha budidaya
udang vannamei.
3.4. Prosedur Praktikum
Adapun
prosedur pengukuran kualitas air pada praktikum Manajemen Kualitas Airyaitu:Pada
pengukuran suhu, alat yang digunakan adalah thermometer. Thermometer tersebut
di masukkan ke dalam perairan selama 3-5 menit.Setelah diketahui hasilnya, kemudian
dicatat lansung tanpa menyentuh thermometer agar tidak mempengaruhi hasil yang
didapatkan.Pengukuran dilkukan pada 4 kolam yang berbeda.
Untuk pengukuran kecerahan alat yang digunakan adalah Secci Disk. Cara pengukurannya adalah secci disk dimasukkan kedalam perairan sampai pada titik hilang ( Tidak nampak ) kemudian diangkat secara perlahan-lahan sampai ditemukan tittik tampak serta diukur jarak keduanya. Pencatatan hasilnya dilakukan pada titik tidak tampak dan titik tampak serta diukur pada 4 yang kolam tambak berbeda.
Pengukuran oksigen terlarut dengan menggunakan DO Meter. Sebelum dilakukan pengukuran, DO Meter dikalibrasi terlebih dahulu dengan menggunakan Aquades agar mendapatkan hasil yang akurat. DO Meter dimasukkan kedalam air dan dibiarkan selama 3-5 menit agar hasil dimonitor stabil. Pengukuran juga dilakukan pada 4 kolam tambak yang berbeda, akan tetapi kita tidak mempunyai alat DO meter maka kita tidak mengambil sampel tersebut.
Untuk pengukuran kecerahan alat yang digunakan adalah Secci Disk. Cara pengukurannya adalah secci disk dimasukkan kedalam perairan sampai pada titik hilang ( Tidak nampak ) kemudian diangkat secara perlahan-lahan sampai ditemukan tittik tampak serta diukur jarak keduanya. Pencatatan hasilnya dilakukan pada titik tidak tampak dan titik tampak serta diukur pada 4 yang kolam tambak berbeda.
Pengukuran oksigen terlarut dengan menggunakan DO Meter. Sebelum dilakukan pengukuran, DO Meter dikalibrasi terlebih dahulu dengan menggunakan Aquades agar mendapatkan hasil yang akurat. DO Meter dimasukkan kedalam air dan dibiarkan selama 3-5 menit agar hasil dimonitor stabil. Pengukuran juga dilakukan pada 4 kolam tambak yang berbeda, akan tetapi kita tidak mempunyai alat DO meter maka kita tidak mengambil sampel tersebut.
Pengukuran
pH dapat menggunakan kertas lakmus yang dimasukkan kedalam perairan selama
beberapa menit sampai warna pada kertas lakmus tersebut berubah.Setelah itu
dicocokkan pada kotak standar pengukuran pH supaya diketahui hasilnya.pengukuran
juga dilakukan pada 4 kolam tambak yang berbeda.
. Pengukuran Salinitas Air dapat menggunakan refakto meter ,dengan cara membersihkan permukaan refraktometer menggunakan aquadest kemudian di lap mengunakan tissue untuk menetralkanya, kemudian air sebanyak 1 tetes menggunakan jari dan diletakkan air tersebut diatas permukaan refraktometer lalu tutup dengan penutup alat tersebut hingga rapa. Dibaca angka yang tertera di layar yang merupakan nilai salintas dari perairan.pengambilan sampel air dg akua gelas kemudian meneteskan setidanya dua tetes Air pada permukan alat tersebut Setelah itu pengamatan supaya diketahui hasilnya.pengukuran, nya juga dilakukan pada 4 kolam tambak yang berbeda.
. Pengukuran Salinitas Air dapat menggunakan refakto meter ,dengan cara membersihkan permukaan refraktometer menggunakan aquadest kemudian di lap mengunakan tissue untuk menetralkanya, kemudian air sebanyak 1 tetes menggunakan jari dan diletakkan air tersebut diatas permukaan refraktometer lalu tutup dengan penutup alat tersebut hingga rapa. Dibaca angka yang tertera di layar yang merupakan nilai salintas dari perairan.pengambilan sampel air dg akua gelas kemudian meneteskan setidanya dua tetes Air pada permukan alat tersebut Setelah itu pengamatan supaya diketahui hasilnya.pengukuran, nya juga dilakukan pada 4 kolam tambak yang berbeda.
3.5. Teknik Pengumpulan Data
Pada prosedur
praktikum pengumpulan data dilakukan dengan melalui 2 cara pengumpulan data.
Adapun data tersebut dapat diperoleh dengan menggunakan data primer dan data
sekunder.
3.5.1. Data Primer
3.5.1. Data Primer
Pada data
primer adalah data kita yang diperoleh langsung dari lapangan itu sendiri
dimana tempat kita melakukan praktikum tersebut.
3.5.2. Data Sekunder
3.5.2. Data Sekunder
Berbeda
halnya pada data primer, pada data sekunder data yang kita peroleh tersebut
adalah dari data yang telah dilakukan oleh karyawan tambak terlebih dulu, yang
sudah mempunyai data cukup jelas dari sebuah perairan kolam tambak yang akan kita lakukan praktikum.
3.5.3.Penentuan lokasi sampling
3.5.3.Penentuan lokasi sampling
Lokasi
sampling yang telah ditentukan tersebut disebuah kolam yang terletak didesa
Delegan. Dimana dalam kolam tersebut kita melakukan praktikum berupa
pengambilan sampel air, pada petak empat
kolam tambak yang berbeda diantaranya
pada koalm pertama daerah yang dilakukan praktikum terletak ditengah kolam, sedangkan pada kolam tambak ke dua
lokasinya di pingir kolam tambak, dan kemudian pada kolam tambak selanjutnya
pengembilan sempelm air hampr ketengah dan bagian pingir ujung kolam tambak .
3.6 Analisa Data
Data-data
yang diperoleh dari hasil praktikum lapang yaitu parameter kualitas air secara
fisika, kimia, dan biologi, dapat kita simpulkan dalam bentuk tabel dan
kemudian dibahas secara deskriptif untuk diambil suatu kesimpulan.
IV. HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1
Deskripsi
Kolam Pengamatan
4.1.1. Kolam Tambak
Tambak adalah
suatu ekosistem buatan manusia, merupakan lahan dekat pantai yang dibendung
dengan pematang-pematang keliling sehingga membentuk sebuah kolam berair payau.
Menurut Murahman (1996) tambak merupakan sumber daya buatan berbentuk petakan
tambak berisi air payau yang digunakan untuk memelihara ikan. Sedangkan Anggoro
(1983) menyatakan bahwa tambak merupakan suatu ekosistem perairan di wilayah
pesisir yang dipengaruhi oleh teknis budidaya, tata guna lahan dan dinamika
hidrologi perairan di sekitarnya.
Produksi
hayati perairan tambak sangat ditentukan oleh kesuburan tambak dimana
merupakan modal dasar bagi kelangsungan perekonomian serta penopang
kelancaran proses-proses sub sistem pada ekosistem perairan tambak secara
keseluruhan. Pada produktivitas tambak ditentukan oleh sarana produksi dan kualitas
habitat, dimana habitat tambak selalu mengalami perubahan sesuai dengan
keseimbangan dinamik faktor lingkungan yang mempengaruhinya (Tseng, 1987;
Zaidi, 1992).
4.1.2. Persyaratan Lokasi Tambak
Salah satu
syarat dalam budidaya payau adalah pemilihan lokasi. Hal ini dikarenakan
pemilihan lokasi merupakan langkah awal dalam budidaya. Pemilihan lokasi
didasarkan pada evaluasi kesesuaian fisik serta evaluasi sosial ekonomi
amsyarakat. Evaluasi kesesuaian fisik meliputi tekstur tanah, pH tanah, bahan organic
tanah, salinitas, suhu, kecerahan, derajat keasaman (pH) air, oksigen terlarut
(DO), ammonia (NH3), Nitrit (NO2), Nitrat (NO3), BOD (Biological Oxygen
Demand), Plankton, Iklim, Sumber Air, Pasang Surut, serta Topografi dan Elevasi
(Supratno T, 2006).
Elevasi
calon lokasi tambak terhadap permukaan air laut, dicari yang masih berada di
daerah pasang surut. Ketinggian seluruh tempat itu tidak boleh melebihi tinggi
permukaan air pasang tertinggi (misalnya tempat yang letaknya terlaluh jauh ke
pedalaman), dan juga tidak boleh kurang (lebih rendah) dari pada tinggi
permukaan air surut terendah (misalnya tempat-tempat yang merupakan “kantong”
atau cekungan berpaya-paya), sekalipun masih dekat dengan pantai (Soeseno,
1983).
Lokasi yang
cocok untuk tambak akuakultur payau adalah pada daerah sepanjang pantai
(beberapa meter dari permukaan air laut) dengan suhu rata-rata 26-28 derajat C.
Tanah yang ideal untuk tambak udang adalah yang bertekstur liat atau liat
berpasir, karena dapat menahan air. Tanah dengan tekstur ini mudah dipadatkan
dan tidak pecah-pecah. Tekstur tanah dasar terdiri dari lumpur liat berdebu
atau lumpur berpasir, dengan kandungan pasir tidak lebih dari 20%. Tanah tidak
boleh porous (ngrokos).Jenis perairan yang dikehendaki oleh udang adalah air
payau atau air tawar tergantung jenis udang yang dipelihara.
Ekosistem
air yang terdapat di darat (inland water) secara umum di bagi atas 2 yaitu
perairan lentik (lentik water), atau juga disebut sebagai perairan tenang,
misalnya danau, rawa, waduk, situ, telaga dan sebagainya dan perairan lontik
(lontic water), disebut juga sebagai perairan berarus deras, misalnya sungai,
kali, kanal, parit dan sebagainya. Perbedaaan utama antara perairan lontik dan
lentik adalah dalam kecepatan arus air (Barus, 2003)
5.1.3. Tambak Intensi
Menurut
Anonim (2011) Tambak intensif adalah tambak dengan pematangsemen (beton),
dengan pompa air, kincir, pakan 100% pelet dan tingkat penebaran diatas 40.000
per hektar. Target panen minimal 1 ton.
Jenis kolam
pengamatan adalah kolam tarpal plastik, yaitu kolam yang bagian pinggir dan
dasarnya dari tanah tetapi di bagian atasnya di lapisi tarpal plastic. Kolam
ini berbentuk empat persegi panjang.Di bagian pematang sebelah selatan terdapat
pohon sebagai naungan. Air yang masuk ke kolam cukup deras dengan input sebelah
barat dan output sebelah timur. Sumber air pada kolam tersebut berasal
dari sumur bor yang berada di sungai
yang ada dipinggir kolam dengan warna air keruh, jenis tanah adalah liatberlumpur.
Di tambak tersebut merupakant tempat pembudidayaan udang
vanamei secara intensif, daerah tambak
tersebut terletak di daerah pesisir
dekat laut dan muara sungai, hal ini dimaksudkan agar mempermudah
pengambilan air sebagai sumber pengairan untuk tambak udang tersebut, begitupun
dengan pembuangan airnya yang dimaksudkan agar air limbah yang dihasilkan dari
tambak dapat dibuangke laut. Meskipun
begitu, pekerja-pekerja di tempat tersebut telah menyediakan saluran khusus
untuk pemasukan air dan pembuangan air agar limbah-limbah tersebut tidak
mengakibatkan gangguan yang besar terhadap ekosistem yang ada dilautan sekitar
tambak tersebut.
Persiapan
sarana seperti tambak dilakukan dengan cara pengeringan
kemudian pengapuran dan selanjutnya pengairan, pengisian air tambak dengan menggunakan sumber air payau yang di bor berada di
pingir muara sunagi kolam tambak tempat
tersebut. Dalam setiap tambak, memiliki kincir yang bervariasi. Salah satu
tambak yang kami amati yang ada di daerah tersebut dipasangkan dengan 8 kincir
yang disebar sedemikian rupa agar dapat melakukanfungsinya dengan maksimal.
Kincir yang digunakan terdiri dari dua jenis yaitu, kincir dengan 2 daun
dan kincir dengan 4 daun. Menurut pegawai tambak tersebut, pergantian air
dapat dilakukan apabila pada permukaan tambak terdapat banyak gumpalan
busa coklat.
Di tambak Delegan memiliki setidaknya 4 tambak
fungsional yangmasing-masing berukuran 6500m/segi dengan kedalaman sekitar 2 meter benih udang
vaname yang di budidayakan di tambak Delegan tersebut dipilih dari bibit-bibit yang
dipasok dari daerah Suma, Rembang, Jawa Tengah.
4.1.4. Persiapan Tambak
Kegiatan budidaya tidak lepas dari persiapan baik itu
persiapan lahan maupun persiapan sarana-prasarana. Persiapan lahan sangat
pernting karena merupakan langkah awal dari kegiatan budiaya dan merupakan
titik kunci kesuksesan budidaya. Hal ini dikarenakan lahan merupakan salah satu
factor pembatas kegiatan budidaya. Jika lahan yang digunakan tidak sesua dengan
kehidupan udang maka kegiatan budidaya akan terhambat. Maka dari itu kegiatan
budidaya pembesaran udang Vanamei Tmbak Delegan Kabupaten Gersik melakukan persiapan yang matang dalam kegiatan
budidaya.
Kegiatan
budidaya pembesaran udang Vanemei di Tmbak Delegan Kabupaten Gersik sedikit
berbeda dengan kegiatan budidaya udang pada umumnya. Hal ini dikarenakan
kegiatan budidaya dilakukan didaerah lahan berpasir. Maka dari itu dibuatlah
rekayasa sistem budidaya Biocrite. Konstruksi biocrite diterapkan agar tanah
lahan pasir (yang sebelumnya tidak mampu menahan air) menjadi mampu dan
berfungsi dalam menahan air. Sistem biocrite ini menggunakan plastic poly
Etheline (PE) .Tambak berlapisan plastic poly Etheline (PE) atau tarpal yang di
gunakan sebagi dasar dan dinding kolam tambak untuk menahan air.
Persiapan
tambak pada budidaya pembesaran udang Vanamei dilahan pasir pantai
dilakukan melalui beberapa tahap:
a.
Evaluasi kondisi plastik dasar
tambak dan pematangnya.
Kontruksi dasar tmbak biocrite yang menggunakan plastik maka
diperlukan pengecekan setiap akan dilakukan kegiatan budidaya. Tujuannya untuk
memastikan bahwasanya palstik yang digunakan tidak mengalami kebocoran. Jika
plastik PE yang digunakan mengalami kebocoran maka akan sangat mempengaruhi
debit ari di tambak dan akibatnya akan berpengaruh pada kondisi udang.
Jika debit air sangat rendah maka fluktuasi suhu perairan
akan sangat tinggi. Akibatnya akan berpengaruh pada kadar DO perairan. Maka
dari itu diperlukan pengecekan ulang setiap akan melakukan pengisian air
tambak. Jika terjadi kebocoran plastic maka diperlukan penembelan.
Selain kebocoran plastik persiapan lainnya adalah perbaikan
pematang. Sifat pasir yang tidak kuat akan membuat pematang cepat mengalami
kerusakan. Selain itu kerusakan pematang dapat disebabkan oleh tekanan air yang
menginterusi sepanjang pematang.
Biasanya kerusakan pematang sering terjadi pada musim
penghujan. Diperlukan cara yang tepat untuk memperbaiki pematang agar dapat
berfungsi dengan baik dan tidak mudah rusak. Salah satu cara mengatasinya
adalah dengan membongkar beton bagian pematang yang longsong dan melakukan
checking plastik PE dasar beton (Triyatmo, 2010). Diperlukan pemadatan pasir
pematang sehingga harapannya dapat mengurangi celah yang mengakibatkan air
hujan mengumpul pada pematang. Pasir pematang yang padat ini akan memperkuat
pematang kolam.
b.
Pengeringan dan pencucian dasar
tambak
Pengeringan dan pencucian dasar tambak sangat penting untuk
dilakukan sebelum lahan tambak diisi oleh air. Pengeringan ini ditujukan agar
dasar tambak menjadi bersih baik dari kotoran pakan maupun dari bibit penyakit
yang mungkin tertinggal. Dilakukan pencucian tambak khususnya plastik PE agar
dapat bertahan lama dan bersih. Pencucian biasanya mengandalkan air hujan,
namun jika tidak terjadi hujan maka hanya dilakukan pembersihan sampah didasar
tambak.
c.
Penyiapan tetumbuhan dasar tambak.
Tambak lahan tanah pasir yang dibiarkan beberapa minggu akan
cepat ditumbuhi oleh rumput. Maka dari itu diperlukan pembersihan rumput maupun
tumbuhan liar.
d. Perataan
tanah dasar tambak.
Setelah kegiatan budidaya biasanya keadaan tanah dasar akan
mengalami kerusakan karena adanya erosi yang disebabkan oleh air tambak maka
dari itu diperlukan perbaikan tanah dasar tambak. Jika dalam kegiatan tambak
konvensional dasarnya menggunakan tanah biasa sehingga diperlukan pengelolaan
tanah yang cukup lama, maka dalam tambak biocrite kegiatan itu dilakukan dan
hanya melakukan perataan tanah dasar. Bagian-bagian plastik dasar yang
tersingkap harus ditutup dengan plastik lalu diratakan.
e. Pembenahan
dan persiapan central drainase
Pembenahan dan persiapan central drainase sangat diperlukan
agar nantinya kegiatan budidaya tidak terhambat. Jika central drainase rusak
maka akan sangat menganggu dalam pembuangan limbah dasar. Yang sangat
dikawatirkan jika terjadi akumulasi limbah dasar dan bahkan pengadukan limbah.
Maka dari untuk menanggulangi terjadinya akumulasi limbah dasar diperlukan
perbaikan central drainase. Bahan-bahan yang diperlukan dalam perbaikan central
drainase adalah paralon 20 buah yang diletakkan didalam maupun diluar.
f. Pemasangan
Skat Balk
Skatbalk dipasang untuk menutup pintu air. Skatbalk terdiri
dari dua bagian dalam dan skat bagian luar.
g.
Pemasangan
kincir air
Kincir sangat penting dalam kegiatan budidaya udang.
Pemberian kincir dtujukan untuk menyuplay DO perairan sehingg dapat
dimanfaatkan oleh udang dalam kegiatan metabolism. Selain itu kincir dapat
berfungsi dalam pengadukan air sehingga air teraduk sempurna. Sebaiknya kincir
dipasang sebelum air mulai dialirkan kedalam tambak.
h.
Pengisian air pada petak tambak
Pengsian air pada petak tambak yang berukuran 6500 meter
persegi diperlukan waktu 2 hari satu malam. Namun dalam pengisian air tambak
sangat dipengaruhi oleh ketersediaan air yang dihasilkan dari reservoir air
laut.
i.
Pemupukan, pengapuran,
pemberian fermentasi,
Pemupukan dilakukan 2-3 hari sebelum penebaran. Biasanya
pupuk yang digunakan adalah pupuk komersil seperti urea, TSP, dan KCL.
Pemupukan sangat diperlukan dikarenakan struktur tambak biocrite dasarnya dari
pasir dimana sangat miskin unsur hara.
4.1.5.
Penyediaan dan Penebaran Benur
Kegiatan hatchery yang tidak dapat
berjalaan lagi mengakibatkan suplay benur berasal dari daerah lain. Biasanya
benur udang didapatkan dari perusahaan pembenihan biru laut Katulistiwa
Lampung maupun dari Jawa Timur. Selain itu benur udang biasanya juga didapatkan
dari para penyuplay pakan. Kelebihan dari kerjasama pengadaan benur dengan
penyuplay pakan adalah adanya pengawasan dari penyuppali pakan. Jika nantinya
benur-benur yang didatangkan terjadi permasalahan maka penyuplay pakan akan
mendatangkan tim ahlinya untuk mengatasi permasalahan tersebut.
Ukuran benih yang biasanya
didatangkan adalah PL 10-20 dengan berat 0,01-0,02 gram. Pengangkutan benur
dilakukan dengan suhu 23 derajat C dengan kadar DO 20 ppm. Diperlukan
aklimatisasi di kolam aklimatisasi. Kolam aklimatisasi ini ditujukan untuk
mengetahui kualitas benur baik atau tidak. Biasanya aklimatisasi dilakukan
selama kurang lebih 5 hari. .
Salinitas yang digunakan dalam
aklimatisasi adalah sebesar 15-20 ppt. maka dari air laut harus dicampur dengan
air tawar untuk mendapatkan salinitas yang di iningkan. Dalam bak aklimatisasi
diberi pakan 2 kali sehari dan terus ditambah sampai 3 kali sehari. Dilakukan
penurunan air sekitar 10 % sehingga 5-7 hari salinitasnya sama dnegan yang ada
di tambak.
Setelah proses aklimatisasi selesai
maka benur dapat dipanen. Biasanya panen benur dilakukan pada pagi hari atau
sore hari. Tujuannya adalah menghindari suhu perairan maupun suhu lingkungan
yang tinggi. Panen benur dilanjutkan dengan penebaran benur ke tambak budidaya.
Petak tambak dengan ukuran 6500 meter persegi diisi dengan padat tebar benur
sekitar 430.000-400.000. dengan kata lain 130 okor/meter.
Ketiak masih benur pakan yang paling
cocok adalah pakan alami. Benur yang telah dipanen biasanya berukuran PL-17
hingga PL-28. Penebaran benur dilakukan pada pagi hari atau sore hari pada saat
cuaca tidak terjadi hujan. Hal ini dikarenan ketika terjadi hujan, maka
kualitas air akan berubah secara drastic sehingga berpengaruh terhadap kondisi
benur. Langkah-langkah dalam penebaran
benur adalah sebagai berikut: Meletakkan plastik yang berisi benur pada
air tambak, Membiarkan selama 5 menit, Membuka plastik kemasan benur tanpa
mengeluarkan benur dari kemasan
tersebut, Membiarkan selama 5 menit sambil disirami dengan air tambak, Mengangkat
plastic kemasan secara cepat dengan posisi mulut kemasan berada dibawah. Langkah-langkah
tersebut ditujukan untuk meminimalisir terjadinya kematian benur. Walaupun
sudah dilakukan aklimatisasi di bak aklimatisasi namun dalam penebaran masih
diperlukan aklimatisasi tambahan.
4.1.6. Hama dan Penyakit
Banyak sekali jenis penyakit yang
dapat menyerang udang mulai dari White spot sindrom virus (WSSV), VNN, dll.
Biasanya penyakit-penyakit tersebut menyerang udang karena kondisi lingkugan
yang buruk dan juga dikarenakan penyakit bawaan. Udang yang terserang penyakit
ataupun sait dapat dideteksi dengan cara langsung (tanpa proses laboratorium).
Misalnya tingkah laku udang ketika air digerak dengan memutar kearah tertentu.
Hama merupakan salah satu kendala
yang sering muncul dan mengganggu kegiatan budidaya. Beberapa hama yang
seringkali mengganggu kegiatan budidaya khususnya budidaya payau adalah burung
“cangak awu”. Biasanya burung-burung tersebut memakan ikan atau udang di kolam
budidaya. Cara menanggulangi terjadinya seranga hama dapat menggunakan jarring
yang diletakkan di atas area tambak.
Sejauh ini dalam kegiatan budidaya
pembesaran udang vanamei di Tambak
Delegan Kabupaten Gwrsik sudah mengalami serangan baik itu penyakit (virus,
bakteri, parasit) maupun dari hama (burung). Akan tetapi kegiatan pengendaliaan
penyakit sampai saat ini belum dilakukan secara intensif. Terlihat dimana semua
tambak tidak diberi jaring. Hal ini dikarenakan tidak ada seranga hama dari
burung pengganggu
4.2.Manajemen Kualita Air
Didalam manajemen kualitas air adalah
merupakan suatu upaya memanipulasi kondisi lingkungan sehingga mereka berada
dalam kisaran yang sesuai untuk kehidupan dan pertumbuhan ikan. Di dalam usaha
perikanan, diperlukan untuk mencegah aktivitas manusia yang mempunyai pengaruh
merugikan terhadap kualitas air dan produksi ikan (Widjanarko, 2005).
Kualitas air yaitu sifat air dan
kandungan makhluk hidup, zat energi atau komponen lain di dalam air. Kualitas
air dinyatakan dengan beberapa parameter yaitu parameter fisika (suhu,
kekeruhan, padatan terlarut dan sebagainya), parameter kimia (pH, oksigen
terlarut, BOD, kadar logam dan sebagainya), dan parameter biologi (keberadaan
plankton, bakteri, dan sebagainya) (Effendi, 2003)
4.2.1.Suhu
Suhu tinggi tidak selalu berakibat mematikan tetapi dapat menyebabkan gangguan status kesehatan untuk jangka panjang, misalnya stres yang ditandai dengan tubuh lemah, kurus, dan tingkah laku abnormal. Pada suhu rendah, akibat yang ditimbulkan antara lain ikan menjadi lebih rentan terhadap infeksi fungi dan bakteri patogen akibat melemahnya sistem imun. Pada dasarnya suhu rendah memungkinkan air mengandung oksigen lebih tinggi, tetapi suhu rendah menyebabkan stres pernafasan pada ikan berupa menurunnya laju pernafasan dan denyut jantung sehingga dapat berlanjut dengan pingsannya ikan-ikan akibat kekurangan oksigen (Irianto, 2005).
Suhu tinggi tidak selalu berakibat mematikan tetapi dapat menyebabkan gangguan status kesehatan untuk jangka panjang, misalnya stres yang ditandai dengan tubuh lemah, kurus, dan tingkah laku abnormal. Pada suhu rendah, akibat yang ditimbulkan antara lain ikan menjadi lebih rentan terhadap infeksi fungi dan bakteri patogen akibat melemahnya sistem imun. Pada dasarnya suhu rendah memungkinkan air mengandung oksigen lebih tinggi, tetapi suhu rendah menyebabkan stres pernafasan pada ikan berupa menurunnya laju pernafasan dan denyut jantung sehingga dapat berlanjut dengan pingsannya ikan-ikan akibat kekurangan oksigen (Irianto, 2005).
4.2.2.Kecerahan
Kecerahan merupakan
ciri penentu untuk pencerahan,penglihatan yang mana suatu sumber dilihat
memancarkan sejumlah kandungan cahaya.dalam kata lain kecerahan adalah pencerahan
yang terhasil dari pada kekilauan sasaran penglihatan,kecerahan merupakan suatu
ukuran dimana cahaya didalam air yang disebabkan oleh adanya partikel-partikel
kaloid dan suspensi dari suatu bahan pencemaran,antara lain bahan organic dari
buangan-buangan industry,rumah tangga,pertanian yang terkandung di perairan (
Chakroff dalam Syukur,2002).
4.2.3.
pH (Derajat Keasaman)
pH adalah suatu ukuran
keasaman dan kadar alkali dari sebuah contoh cairan. Kadar pH dinilai dengan
ukuran antara 0-14. Sebagian besar persediaan air memiliki pH antara 7,0-8,2
namun beberapa air memiliki pH di bawah 6,5 atau diatas 9,5. Air dengan kadar
pH yang tinggi pada umumnya mempunyai konsentrasi alkali karbonat yang lebih
tinggi. Alkali karbonat menimbulkan noda alkali dan meningkatkan farmasi
pengapuran pada permukaan yang keras (iCLEAN, 2007).
4.2.5. DO (Disolved Oxigent)
4.2.5. DO (Disolved Oxigent)
Oksigen adalah unsur
fital yang di perliukan oleh semua organisme untuk respirasi dan sebagai zat
pembakar dalm proses metabolisme. Sumber utama oksigen terlarut dalam air
adalah penyerapan oksigen dari udara melalui kontak antara permukaan air dengan
udara, dan dari proses fotosintesis. Selanjutnya aur kehilangan oksigen melalui
pelepasan dari permukaan ke atmosfer dan melalui kegiatan respirasi dari semua
organisme (Barus, 2003).
Kadar oksigen terlarut
juga berfluktuasi secara harian (diurnal) dan musiman, tergantung pada
pencampuran (mixing) dan pergerakan (turbulence) massa air, aktivitas
fotosintesis, respirasi, dan limbah (effluent) yang masuk ke dalam air
(Effendi,2003)
(Effendi,2003)
4.3. Pengukuran Kualitas Air
4.2.1. Data Hasil Pengukuran Kualitas Air
a. Suhu
|
NO
|
Petak
Tambak
|
Suhu
|
|
1
|
Tambak 1
|
29º C
|
|
2
|
Tambak 2
|
30ºC
|
|
3
|
Tambak 3
|
30ºC
|
|
4
|
Tambak 4
|
30ºC
|
Hasil yang didapatkan pada
pengukuran suhu dapat dilihat pada table dibawah ini
Tabel
1. Hasil Pengukuran Suhu
Dari data di atas sangat jelas terlihat bahwa nilai suhu di kolam ini
didapatkan diperairan tersebut yaitu berkisar antara 29°C sampai 30°C, suhu
diukur pada saat matahari berada pada puncak dan berkisar diantara pukul 12.00
wib sampai dengan pukul 15.00 wib dan perubahan suhu disuatu perairan
dikarenakan adanya pengaruh penyerapan dan pelepasan panas dari teriknya
matahari.
Suhu pada perairan kolam ini tergolong optimum dikerenakan suhu yang baik bagi suatu perairan untuk pertumbuhan fitoplankton dan organisme lainnya yaitu antara 27°C sampai 31°C, dan suhu yang berubah-ubah dapat mempengaruhi pertumbuhan fitoplankton dan organisme yang ada diperairan tersebut (Irianto, 2005)
Suhu pada perairan kolam ini tergolong optimum dikerenakan suhu yang baik bagi suatu perairan untuk pertumbuhan fitoplankton dan organisme lainnya yaitu antara 27°C sampai 31°C, dan suhu yang berubah-ubah dapat mempengaruhi pertumbuhan fitoplankton dan organisme yang ada diperairan tersebut (Irianto, 2005)
b.Kecerahan
Hasil yang didapatkan pada pengukuran suhu dapat dilihat pada table dibawah ini :
Hasil yang didapatkan pada pengukuran suhu dapat dilihat pada table dibawah ini :
|
No
|
Petak Tambak
|
Kecerahan
|
|
1
|
Tambak 1
|
30 cm
|
|
2
|
Tambak 2
|
18 cm
|
|
3
|
Tambak 3
|
26cm
|
|
4
|
Tambak 4
|
30 cm
|
Tabel
2. Hasil Pengukuran Kedalaman
Apabila disuatu perairan kecerahan
berkurang atau cahaya tidak mampu untuk menembus perairan tersebut, maka
organisme yang ada di dalam perairan itu akan mengalami stress dan dikit demi
sedikit organisme yang ada dalam peairan itu akan punah (mati), dikarenakan
kurangnya daya tembus matahari diperairan tersebut dan disebabkan adanya banyak
tanaman air yang menghalangi masuknya sinar matahari keperairan, tanaman yang
ada dalam perairan itu seperti eceng gondok, kangkung dan sebagainya ( Chakroff
dalam Syukur,2002).
Berdasarkan
hasil pengukuran, hasil kecerahan yang didapatkan berkisar antara 18cm – 30 cm.
Hal ini maíz tergolong normal karena menurut Odum (1993) Bahwa bila kekeruhan
disebabkan oleh fitoplanktonk maka usuran kekeruhan merupakan factor productivitas
statu perairan.
|
No
|
Petak Tambak
|
pH
|
|
1
|
Tambak 1
|
6 ppm
|
|
2
|
Tambak 2
|
7 ppm
|
|
3
|
Tambak 3
|
6 ppm
|
|
4
|
Tambak 4
|
7 ppm
|
c. pH (Derajat Keasaman)
Hasil yang diperoleh dalam mengukuran pH dapat dilihat pada tabel dibawah ini :
Hasil yang diperoleh dalam mengukuran pH dapat dilihat pada tabel dibawah ini :
Tabel 3. Hasil
Pengukuran pH
Skala
yang digunakan untuk pengukuran pH yaitu dari 0 sampai 14, jika pH diperairan
tersebut 0-14 maka perairan disebut asam dan jika pH diperairan tersebut
menunjukkan 7-14 maka perairan itu basa. Hasil yang didapatkan diperairan itu
berkisar antara 5 ppm sampai 6 ppm dan ini menunjukkan bahwa pearairan yang
telah kita praktikum adalah asam berarti ini menunjukkan pH tersebut masih
dapat ditolerir oleh organisme didalamnya. pH yang optimum berkisar antara 6-8
ppm ( Wardoyo, 1981 )
d. Amonia
Hasil
yang diperoleh dalam mengukuran Amonia di air tambak dapat dilihat pada tabel
dibawah ini
|
No
|
Petak Tambak
|
Hasil pengukuran Amonia
|
|
1
|
Tambak 1
|
2,0
|
|
2
|
Tambak 2
|
1,5
|
|
3
|
Tambak 3
|
0,5
|
|
4
|
Tambak 4
|
25̽̽̽̽ ̽
Berbuas
|
Tabel 3. Hasil
Pengukuran Amonia
Amonia merupakan
hasil ekskresi atau pengeluaran kotoran udang yang berbentuk gas. Selain itu,
amonia bisa berasal dari pakan yang tidak termakan oleh udang sehingga larut
dalam air. Amonia baik yang berasal dari ekskresi udang maupun hasil penguraian
kotoran zat padat (faeces) dan
sisa-sisa pakan udang, selanjutnya dioksidasi oleh bakteri autotrof khususnya Nitrosomonas sp. dan Nitrobacter sp. Amonia tersebut
dioksidasi olek bakteri Nitrosomonas sp.
menjadi nitrit, kemudian nitrit yang terbentuk dioksidasi lebih lanjut oleh
bakteri Nitrobacter sp. dalam proses
nitrifikasi.
Nitrit beracun bagi udang, karena
mengoksidasi Fe2+ dalam hemoglobin, sehingga kemampuan
darah untuk mengikat oksigen sangat rendah. Toksisitas dari nitrit yaitu
mempengaruhi transport oksigen dalam darah dan merusak jaringan. Kadar nitrit
6,4 ppm NO2-N dapat menghambat pertumbuhan udang putih sebanyak 50 %
(Wickins, 1976 dalam Arifin, 2005).
e. Salinitas
Hasil
yang diperoleh dalam mengukuran Salinitas air tambak dapat dilihat pada tabel
dibawah ini
|
No
|
Petak Tambak
|
Hasil pengukuran Salinitas
|
|
1
|
Tambak 1
|
26 ppm
|
|
2
|
Tambak 2
|
26 ppm
|
|
3
|
Tambak 3
|
26 ppm
|
|
4
|
Tambak 4
|
27 ppm
|
Tabel 3. Hasil
Pengukuran salinitas
f. Warna Air
Hasil
yang diperoleh dalam mengamatan Warna
Air tambak dapat dilihat pada tabel dibawah ini
|
No
|
Petak Tambak
|
Warna air
|
|
1
|
Tambak 1
|
Hijau
|
|
2
|
Tambak 2
|
Hijau
|
|
3
|
Tambak 3
|
Hijau
|
|
4
|
Tambak 4
|
Hijau
|
Tabel 3. Hasil
Pengamatan Warna Air
4.2.5. Manajemen Pakan
Pemberian pakan
yang baik merata, dalam arti dapat diusahakan agar satu individu udang dapat
memperoleh bagian pakan yang sama dengan individu yang lainnya. Pemberian pakan
yang merata menghindari terjadinya kompetisi dalam mendapatkan makanan. Apabila
kompetisi dapat dihindari maka kanibalisme dapat dihindarkan.
Frekuensi
pemberian pakan pada udang kecil cukup 2 – 3 kali sehari, karena masih
mengendalkan pakan alami (Haliman dan Adijaya, 2005). Zaidy (2000) berpendapat,
pakan diberikan dengan cara disebar dipermukaan tambak dengan frekuensi 5 – 6
kali sehari. Persentase jumlah pakan yang diberikan mulai dari 50 % saat udang
baru beberapa hari ditebar dan 3 % saat udang akan dipanen.
Haliman dan
Adijaya (2005) menambahkan, setiap pemberian pakan, 2 – 4 % dari jumlah total
pakan yang ditebar harus dimasukkan ke anco. Hal ini merupakan tindakan kontrol
terhadap aktifitas memakan udang. Dua jam kemudian, anco dapat diangkat dan
diperiksa sisa pakan yang ada dengan demikian dapat diprediksi kebutuhan pakan
udang. Ciri-ciri udang kekurangan dan kelebihan pakan yaitu :
Ditjen
Kesehatan Ikan dan Lingkungan, Ditjen Perikanan Budidaya (2005), peberian
suplemen (feed additive) seperti
vitamin, immonostimulan, mineral, HUVA, carotenoid, astaxanthindan probiotik
dapat dilakukan yang bertujuan untuk meningkatkan daya tahan tubuh udang yang
dibudidayakan. Vitamin C dapat diberikan dengan dosis 3 gram/kg pakan.
Bataglucan dapat diberikan 0, 1 gram/kg pakan, sedangkan fucoida dengan dosis
60 – 100 mg/kg berat udang/hari.
Menurut Arifin
(2005), pemberian probiotik yang dicampur dengan pakan udang bertujuan untuk :
1.
Menyeimbangkan mikroflora dalam usus,
yaitu menekan bakteri yang merugikan.
2.
Bakteri yang hidup di dalam usus akan
menghasilkan enzim sehingga diharapkan dapat membantu sistem pencernaan pada
udang.
3.
Bakteri mengandung protein yang cukup
tinggi, sehingga dapat dimanfaatkan oleh udang.
4.
Untuk menghasilkan kekebalan tubuh pada
udang.
KESIMPULAN DAN SARAN
5.1.Kesimpulan
Berdasarkan
hasil dan pembahasan diatas, maka dapat diambil kesimpulan sebagaiberikut :
Ø Kualitas air diperairan tersebut seperti DO,
pH, Kecerahan, Kedalaman, dan sebagainya itu sangat mempengaruhi kelangsungan
hidup organisme yang ada diperairan itu dan untuk kadar kualitas air diperairan
harus baik dan memenuhi syarat untuk dapt melakukan kegiatan budidaya.
Ø Berdasarkan
hasil yang didapatkan maka kolam tersebut tergolong dalam keadaan baik artinya
kolam tersebut masih dapat mendukung kehidupan organisme didalamnya.
5.2. Saran
Agar didapatkan hasil yang maksimal dari budidaya Udang Vanamei maka diperlukan manajemen yang baik pada kolam budidaya tersebut terutama dalam hal Sistem Teknologi Budidaya Manajemen kualitas air, dan Manajemen Pemberian Pakan yang merupakan faktor penting dalam kegiata dibudidaya.
Untuk kelancaran praktikum harus diperoleh data yang maksimal dan dalam melakukan praktikum harus dengan teliti,
Agar didapatkan hasil yang maksimal dari budidaya Udang Vanamei maka diperlukan manajemen yang baik pada kolam budidaya tersebut terutama dalam hal Sistem Teknologi Budidaya Manajemen kualitas air, dan Manajemen Pemberian Pakan yang merupakan faktor penting dalam kegiata dibudidaya.
Untuk kelancaran praktikum harus diperoleh data yang maksimal dan dalam melakukan praktikum harus dengan teliti,
DAFTAR PUSTAKA
Anggoro, S. 1983. Permasalahan Kesuburan Perairan Bagi
Peningkatan Produksi kan di Tambak. Paper Kolokium. Jurusan Ilmu Perairan.
Fakultas Pasca Sarjana. IPB. Bogor
Supratno, T. 2006. Evaluasi Lahan
Tambak Wilayah Pesisir Jepara Untuk Pemanfaatan Budiaya Ikan Kerapu. Tesis
Program Studi Magister Manajemen Sumberdaya Pantai. Unversiatas Diponegoro.
Semarang . http://zaedkfc.blogspot.com/2012/06/laporan-praktikum-manajemen-akuakultur.html
Supratno, KP, T dan Kusnendar, E.
2001. Teknologi dan Kelayakan Usaha Budidaya Kerapu Tikus di Tambak.
Balai Besar Pengembangan Budidaya Air Payau Jepara. Prosiding
Lokakarya Nasional 2001 Pengembangan
Agribisnis Kerapu. BPPT, Jakarta. http://zaedkfc.blogspot.com/2012/06/laporan-praktikum-manajemen-akuakultur.html
Triyatmo, B. 2010. Teknik Budidyaa
Udang dalam Tambak Biocrite (studi Lapangan Di Tambak Udang Pantai Selatan
Yogyakarta). Jurusan Perikanan Fakultas Petanian. Universitas Gadjah Mada.
Yogyakarta http://zaedkfc.blogspot.com/2012/06/laporan-praktikum-manajemen-akuakultur.html
Tseng,
W.Y. 1987. Shrimp Marineculture. Practical Manual. Dept. of Fisheries.
Potmoresby.
Effendi, H. 2003.Telaah
Kualitas Air.Kanisius. Yogyakarta http://zaedkfc.blogspot.com/2012/06/laporan-praktikum-manajemen- akuakultur.html
Ferianita, M., Fachrul,
Herman H., Listari C., S. 2005. Komunitas Fitoplankton Sebagai
Biogor. http://zaedkfc.blogspot.com/2012/06/laporan-praktikum- manajemen-akuakultur.html
Indikator Kualitas
Perairan Teluk Jakarta.Seminar Nasional MIPA, FMIPA-Universitas
Indonesia. Depokhttp://zaedkfc.blogspot.com/2012/06/laporan-praktikum-manajemen-akuakultur.html
Mahmudi, M. 2005. Produktivitas Perairan. Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Brawijaya. Malang
Arfiati, D. 2001. Diktat Kuliah Limnologi. Kimia Air. Fakultas Perikanan. Universitas Brawijaya. Malang
Dianthani, D. 2003. Identifikasi Jenis Plankton Di Perairan Muara Badak, Kalimantan Timur. Program Pasca Sarjana /S3.Institut Pertanian Bogor.2003
Kordi K., M.G.H. dan A.B. Tancung.2007. Pengelolaan Kualitas Air dalam Budidaya Perairan. Rineka Cipta. Jakarta
iCLEAN, 2007. pH.http://www.mysaltz.net. Diakses tanggal 26 Mei 2009.
Irianto, A. 2003. Probiotik Akuakultur. Gadjah Mada University Press. Yogyakarta
Subarijanti, H. U. 2005. Pemupukan dan Kesuburan Perairan. Fakultas Perikanan. Universitas Brawijaya. Malang
http://infoichal28.blogspot.com/2013/02/laporan-tekhnik-pembesaran-udang_661.html
http://perikananseruyan.blogspot.com/2011/07/budidaya-udang-vannamei.html
