Rabu, 04 Februari 2015

DUNIA PERIKANAN'' LAPORAN PRAKTIKUM MENEJEMEN KUWALITAS AIR

LAPORAN PRAKTIKUM
SISTEM TEKNOLOGI BUUDIDAYA
DI TAMBAK DELEGAN KABUPATEN GERSIK




 




OLEH :
ISMAIL TUEN LAMABLAWA
(  2011.02.5.0008 )


JURUSAN PERIKANAN
FAKULTAS TEKNIK DAN ILMU KELAUTAN
UNIVERSITAS HANG TUAH
SURABAYA
2014

I. PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Wilayah pesisir memiliki beraneka ragam sumberdaya yang memungkinkan pemafaatannya secara berganda. Pemanfaatan sumberdaya wilayah pesisir, perlu dikelola dengan mempertimbangkan hubungan antara setiap sumberdaya dalam ekosistem wilayah pesisir atau memperhatikan ekosistem tersebut secara menyeluruh. Pada kawasan pesisir pemanfaatan lahan telah dilakukan untuk berbagai kepentingan salah satunya adalah pertambakan.
Tambak adalah suatu ekosistem buatan manusia, merupakan lahan dekat pantai yang dibendung dengan pematang-pematang keliling sehingga membentuk sebuah kolam berair payau. Menurut Murahman (1996) tambak merupakan sumber daya buatan berbentuk petakan tambak berisi air payau yang digunakan untuk memelihara ikan. Sedangkan Anggoro (1983) menyatakan bahwa tambak merupakan suatu ekosistem perairan di wilayah pesisir yang dipengaruhi oleh teknis budidaya, tata guna lahan dan dinamika hidrologi perairan di sekitarnya.
Produksi hayati perairan tambak sangat ditentukan oleh kesuburan tambak dimana  merupakan modal dasar bagi kelangsungan perekonomian serta penopang kelancaran proses-proses sub sistem pada ekosistem perairan tambak secara keseluruhan. Pada produktivitas tambak ditentukan oleh sarana produksi dan kualitas habitat, dimana habitat tambak selalu mengalami perubahan sesuai dengan keseimbangan dinamik faktor lingkungan yang mempengaruhinya (Tseng, 1987; Zaidi, 1992).
Salah satu syarat dalam budidaya payau adalah pemilihan lokasi. Hal ini dikarenakan pemilihan lokasi merupakan langkah awal dalam budidaya. Pemilihan lokasi didasarkan pada evaluasi kesesuaian fisik serta evaluasi sosial ekonomi amsyarakat. Evaluasi kesesuaian fisik meliputi tekstur tanah, pH tanah, bahan organic tanah, salinitas, suhu, kecerahan, derajat keasaman (pH) air, oksigen terlarut (DO), ammonia (NH3), Nitrit (NO2), Nitrat (NO3), BOD (Biological Oxygen Demand), Plankton, Iklim, Sumber Air, Pasang Surut, serta Topografi dan Elevasi (Supratno T, 2006). Evaluasi sosial ekonomi masyarakat ditujukan untuk mengetahui ekonomi mayarakat pesisir. Hal ini di tujukan agar nantinya kegiatan tambak tidak berbenturan dengan kepentingan masyarakat sekitar. Untuk mendapatkan data mengenai kondisi masyarakat pesisir dapat dilakukan dengan membuat survey langsung terhadap masyarakat  dan mencari data sekunder seperti data monografi dari instansi terkait seperti desa, kecamatan, maupun dinas kelautan dan perikanan daerah.
                Air merupakan sumberdaya alam yang diperlukan untuk hajat hidup orang banyak, bahkan oleh semua makhluk hidup. Oleh karena itu, sumberdaya air harus dilindungi agar tetap dapat dimanfaatkan dengan baik oleh manusia serta makhluk hidup yang lain. Pemanfaatan air untuk berbagai kepentingan harus dilakukan secara bijaksana, dengan memperhitungkan kepentingan generasi sekarang maupun generasi mendatang. Aspek penghematan dan pelestarian sumberdaya air harus di tanamkan pada segenap pengguna air (Effendi, 2003).
                Kualitas air secara umum menunjukkan mutu atau kondisi air yang dikaitkan dengan suatu kegiatan atau keperluan tertentu Dengan demikian, kualitas air akan berbeda dari suatu kegiatan ke kegiatan lain, sebagai contoh: kualitas air untuk keperluan irigasi berbeda dengan kualitas air untuk keperluan air minum. Air yang jernih bukan berarti air yang baik bagi ikan, karena jernih bukan satu-satunya sarat air berkualitas bagi ikan.Sering dijumpai ikan hidup dan berkembang dengan “subur” justru pada air yang bagi manusia menimbulkan kesan jorok.Ikan hidup dalam lingkungan air dan melakukan interaksi aktif antara keduanya.
            Ikan-air boleh dikatakan sebagai suatu sistem terbuka dimana terjadi pertukaran materi (dan energi), seperti oksigen (O2), karbon dioksida (CO2), garam-garaman, dan bahan buangan.Pertukaran materi ini terjadi pada antarmuka (Interface) ikan-air pada bahan berupa membran semipermeabel yang terdapat pada ikan. Kehadiran bahan-bahan tertentu dalam jumlah tertentu akan mengganggu mekanisme kerja dari membran tersebut, sehingga ikan pada akhirnya akan terganggu dan bisa tewas.
            Kualitas Air adalah istilah yang menggambarkan kesesuaian atau kecocokan air untuk penggunaan tertentu, misalnya: air minum, perikanan, pengairan/irigasi, industri, rekreasi dan sebagainya. Peduli kualitas air adalah mengetahui kondisi air untuk menjamin keamanan dan kelestarian dalam penggunaannya. Kualitas air dapat diketahui dengan melakukan pengujian tertentu terhadap air tersebut. Pengujian yang biasa dilakukan adalah uji kimia, fisik, biologi, atau uji kenampakan (bau dan warna) (ICRF,2010).
Pakan salah satu kebutuhan wajib yang harus dipenuhi dalam kebiatan budidaya. Dewasa ini peran pakan sangat central dan bahkan menjadi factor penentu kesuksesan budidaya. Biaya yang dikeluarkan untuk kegiatan budidaya bisa mencapai 80 % dari total biaya keseluruhan. Melihat pentingnya peran pakan dalam kegiatan budidaya maka diperlukan manajemen yang baik dalam pengelolaan pakan dan pemberian pakan pada kultivan yang dibudidayakan.
            Crustaceae merupakan biota air yang memiliki kebiasaan hidup didasar. Sehingga dalam pemberiaan pakan diperlukan metode tersendiri. Selain itu dalam kegiatan pemberian pakan udang cukup sulit untuk mengetahui apakah pakan yang diberikan cukup atau kurang atau bahkan berlebih. Disinilah peran sampling diperlukan.












1.2. Maksud
Maksud dilaksanakannya praktikum Sistem teknologi budidaya, Manajemen Kualitas Air  dan Manajemen Pemberian Pakan ini adalah untuk mengetahui input,proses,output, Pola budidaya, Sistem Pengairan,Teknologi yang di gunakan, Penanganan penyakit, Bioscurity, Bioremediasi,  parameter kualitas air baik secara fisika, kimia dan biologi( Kecerahan,Salinitas, pH, Oksigen terlarut,Amonia).
Perhitungan Pakan seperti Feeding level, Feeding time, Feeding frekuency,FCR, Effisiensi pakan dan Pertumbuhan  berdasarkan pola diurnal
serta jumlah dan jenis organisme didalamya dan juga menentukan kesuburan perairan pada jenis kolam yang berbeda.
1.3.  Tujuan
Tujuan praktikum ini adalah sebagai berikut:
1.    Mengetahui lokasi yang dapat dijadikan lokasi tambak
2.    Mengetahui konstruksi tambak yang akan digunakan untuk budidaya.
3.    Mengetahui cara pembudidaya mempersiapkan lahan untuk budidaya.
4.    Mengetahui teknik yang digunakan untuk membudidayakan udan vaname.
5.    Mengetahui pola pemberian pakan.


II. TINJAUAN PUSTAKA
2.1. Deskripsi Udang Vaname (Panaeus Vannamei)
2.1.1. Taksonomi  dan Anatomi Udang Vaname
Nama lain dari Udang Vaname adalah Pacific White Shrimp, West Coast White Shrimp. Taksanomi udang vanname adalah sebagai berikut:
            Kingdom         : Animalia
            Subkingdom    : Metazoa
            Filum               : Arthropoda
            Kelas               : Crustasea
            Subkelas          : Malacostraca
            Ordo                : Decapoda
            Subordo          : Dendrobrachiata
            Famili              : Penaeidae
            Genus              : Penaeus                                      Gambar 1. Penaeus vannamei
            Subgenus         : Litopenaeus
            Spesies            : Litopenaeus vannamei
                                                                                         
2.1.2. Morfolgi Udang Vaname
Secara umum tubuh udang penaeid dibagi menjadi dua bagian, yaitu bagian kepala yang menyatu dengan bagian dada (Cephalothorax) dan bagian tubuh sampai ekor (Abdomen). Bagian cephalothorax terlindung oleh kulit chitin yang disebut carapace. Bagian ujung cephalotorax meruncing dan bergerigi yang disebut rostrume. Udang putih (Litopenaeus vannamei) memiliki 2 gigi di bagian ventral rostrum sedangkan di bagian dorsalnya memiliki 8 sampai 9 gigi (Wyban dan Sweene, 1991).
Udang Vanamei memiliki tubuh yang beruas-ruas dan tiap ruasnya terdapat sepasang anggota badan yang umumnya bercabang dua atau biramus. L. vannamei memiliki karakteristik kultur yang unggul. Berat udang ini dapat bertambah lebih dari 3 gram tiap minggu dalam kultur dengan densitas tinggi (100 udang/m2). Berat udang dewasa dapat mencapai 20 gram dan diatas berat tersebut, Penaeus vannamei tumbuh dengan lambat yaitu sekitar 1 gram/ minggu. Udang betina tumbuh lebih cepat daripada udang jantan. L. vannamei memiliki toleransi salinitas yang lebar, yaitu dari 2 – 40 ppt, tapi akan tumbuh cepat pada salinitas yang lebih rendah, saat lingkungan dan darah isoosmotik (Wyban dan Sweene, 1991).
2.1.3. Habitat dan Daur Hidup
Habitat udang berbeda-beda tergantung dari jenis dan persyaratan hidup dari tingkatan-tingkatan dalam daur hidupnya. Pada umumnya udang bersifat bentis dan hidup pada permukaan dasar laut. Adapun habitat yang disukai oleh udang adalah dasar laut yang lumer (soft) yang biasanya campuran lumpur dan pasir. Lebih lanjut dijelaskan, bahwa induk udang putih ditemukan diperairan lepas pantai dengan kedalaman berkisar antara 70-72 meter (235 kaki). Menyukai daerah yang dasar perairannya berlumpur. Sifat hidup dari udang putih adalah catadromous atau dua lingkungan, dimana udang dewasa akan memijah di laut terbuka. Setelah menetas, larva dan yuwana udang putih akan bermigrasi kedaerah pesisir pantai atau mangrove yang biasa disebut daerah estuarine tempat nurseri groundnya, dan setelah dewasa akan bermigrasi kembali ke laut untuk melakukan kegiatan pemijahan seperti pematangan gonad (maturasi) dan perkawinan (Wyban dan Sweeney, 1991).
Hal ini sama seperti pola hidup udang penaeid lainnya, dimana mangrove merupakan tempat berlindung dan mencari makanan setelah dewasa akan kembali ke laut (Elovaara, 2001).Pada udang putih, ciri-ciri telur yang telah matang adalah dimana telur akan terlihat berwarna coklat keemasan (Wyban dan Sweeney,1991).
Udang putih mempunyai carapace yang transparan, sehingga warna dari perkembangan ovarinya jelas terlihat. Pada udang betina, gonad pada awal perkembangannya berwarna keputih-putihan, berubah menjadi coklat keemasan atau hijau kecoklatan pada saat hari pemijahan (Lightner et al., 1996).
Telur jenis udang ini tergantung dari ukuran individu, untuk udang dengan berat 30 gram sampai dengan 45 gram telur yang di hasilkan 100.000 sampai 250.000 butir telur. Telur yang mempunyai diameter 0,22 mm, cleaveage pada tingkat nauplis terjadi kira-kira 14 jam setelah proses bertelur (Anonymous, 1979).
2.1.4.  Siklus Hidup
Seperti kelompok crustacea lainnya udang Vanamei memiliki siklus hidup yang sama yaitu :
1.      Nauplius
Stadia Nauplius terbagi atas enam tahapan yang lamanya berkisar 46-50 jam untuk Litopenaeus vannamei, belum memerlukan pakan karena masih mempunyai kandungan kuning telur.
2.      Zoea
Stadia zoea terbagi atas tiga tahapan, berlangsung selama kira-kira 4 hari. Stadia zoea sangat peka terhadap perubahan lingkungan terutama kadar garam dan suhu air. Zoea mulai membutuhkan pakan berupa fitoplankton (Skeletonema sp.).
3.      Mysis
Stadia mysis terbagi atas tiga tahapan, yang lamanya 4-5 hari. Bentuk udang stadia mysis mirip udang dewasa, bersifat planktonis dan bergerak mundur dengan cara membengkokkan badannya. Udang stadia mysis mulai menggemari pakan berupa zooplankton, misalnya Artemia salina.
4.      Post Larva
Stadia larva ditandai dengan tumbuhnya pleopoda yang berambut (setae) untuk renang. Stadia larv bersifat bentik atau organisme penghuni dasar perairan, dengan pakan yang disenangi berupa zooplankton.


            
Gambar Siklus hidup udang Penaeid (Stewart, 2005)









III. METODE PRAKTIKUM

3.1. Waktu dan Tempat Praktikum
Praktikum Sistem Teknologi Budidaya, Manajemen Kualitas Air dan Manajemen Pemberian Pakan  ini dilaksanakan pada hari Sabtu, tanggal 21  juni 2014 di kolam tambak udang vaname di kecamatan delegan kabupaten gersik
3.2. Metode Praktikum
Metode praktikum yang dilakukan pada praktikum ini adalah metode survey, dan wawancara yakni pengamatan yang dilakukan secara langsung dilapangan dan pengamatan terhadap sample objek yang di lihat secara langsung di lapangan
3.2. Alat dan Bahan Praktikum
Alat-alat yang digunakan pada praktikum ini adalah :
1.         Termometer meter berfungsi untuk mengukur suhu perairann.
2.         Secchi disc berfungsi untuk mengukur kedalaman dan kecerahan perairan.
3.         pH paper berfungsi mengukur derajat keasaman (pH) suatu peran
4.         Refraktometer berfungsi untuk mengukur salinitas suatu peraira
5.         Amonia Meter bberfungsi untuk mengukur kadar amonia
6.         Kamera berfungsi untuk mendokumentasikan kegiatan praktikum.
7.         Alat tulis berfungsi sebagai tempat mencatat hasil praktikum dan wawancara.


3.3. Pelaksanaan Praktikum
3.3.1.Temperatu(suhu)
            Dicelupkan thermometer kedalam badan perairan, dibaca suhu yang tertera pada skala alkohol, pembacaan suhu harus dilakukan didalam badan perairan dengan cara memegang tali thermometer.
3.3.2.    Kecerahan
Diturunkan Secchi Disc sampai hampir tidak tampak, dicatat kedalamannya, diturunkan sedikit lagi hingga tidak tampak, kemudian diangkat secara perlahan, begitu tampat dicatat kedalamannya, rata-rata dari kedalaman tersebut merupakan nilai kecerahan, dinyatakan dalam satuan centimeter.
 3.3.3. pH (Derajat Keasaman)
Dicelupkan pH paper pada perairan selama 1 menit kemudian dicocokan warna pH paperdengankotakskala warna pH.
    3.3.4.    Salinitas
 Dibersihkan permukaan refraktometer menggunakan tissue. Diambil air sebanyak 1 tetes menggunakan jari dan diletakkan air tersebut diatas permukaan refraktometer lalu tutup dengan penutup alat tersebut. Dibaca angka yang tertera di layar yang merupakan nilai salintas dari perairan
3.3.5.   Amonia
            Amonia merupakan hasil ekskresi atau pengeluaran kotoran udang yang berbentuk gas. Selain itu, amonia bisa berasal dari pakan yang tidak termakan oleh udang sehingga larut dalam air. Amonia baik yang berasal dari ekskresi udang maupun hasil penguraian kotoran zat padat (faeces) dan sisa-sisa pakan udang, selanjutnya dioksidasi oleh bakteri autotrof khususnya Nitrosomonas sp. dan Nitrobacter sp. Amonia tersebut dioksidasi olek bakteri Nitrosomonas sp. menjadi nitrit, kemudian nitrit yang terbentuk dioksidasi lebih lanjut oleh bakteri Nitrobacter sp. dalam proses nitrifikasi. Nitrit beracun bagi udang, karena mengoksidasi Fe2+ dalam hemoglobin, sehingga kemampuan darah untuk mengikat oksigen sangat rendah. Toksisitas dari nitrit yaitu mempengaruhi transport oksigen dalam darah dan merusak jaringan. Kadar nitrit 6,4 ppm NO2-N dapat menghambat pertumbuhan udang putih sebanyak 50 % (Wickins, 1976 dalam Arifin, 2005)
3.3.6.   Wawancara
Dilakukan wawancara dengan pihak yang terkait yaitu pemilik tambak udang dan teknisi tambak udang yang meliputi hal-hal mengenai kelayakan lokasi tambak, konstruksi tambak, persiapan tambak, budidaya udang vannamei, dan analisis usaha budidaya udang vannamei.


3.4. Prosedur Praktikum
Adapun prosedur pengukuran kualitas air pada praktikum Manajemen Kualitas Airyaitu:Pada pengukuran suhu, alat yang digunakan adalah thermometer. Thermometer tersebut di masukkan ke dalam perairan selama 3-5 menit.Setelah diketahui hasilnya, kemudian dicatat lansung tanpa menyentuh thermometer agar tidak mempengaruhi hasil yang didapatkan.Pengukuran dilkukan pada 4 kolam yang berbeda.
            Untuk pengukuran kecerahan alat yang digunakan adalah Secci Disk. Cara pengukurannya adalah secci disk dimasukkan kedalam perairan sampai pada titik hilang ( Tidak nampak ) kemudian diangkat secara perlahan-lahan sampai ditemukan tittik tampak serta diukur jarak keduanya. Pencatatan hasilnya dilakukan pada titik tidak tampak dan titik tampak serta diukur pada 4  yang kolam tambak berbeda.
            Pengukuran oksigen terlarut dengan menggunakan DO Meter. Sebelum dilakukan pengukuran, DO Meter dikalibrasi terlebih dahulu dengan menggunakan Aquades agar mendapatkan hasil yang akurat. DO Meter dimasukkan kedalam air dan dibiarkan selama 3-5 menit agar hasil dimonitor stabil. Pengukuran juga dilakukan pada 4 kolam tambak  yang berbeda,  akan tetapi  kita tidak mempunyai alat DO meter  maka kita tidak mengambil sampel tersebut.
            Pengukuran pH dapat menggunakan kertas lakmus yang dimasukkan kedalam perairan selama beberapa menit sampai warna pada kertas lakmus tersebut berubah.Setelah itu dicocokkan pada kotak standar pengukuran pH supaya diketahui hasilnya.pengukuran juga dilakukan pada 4 kolam tambak   yang berbeda.
            . Pengukuran  Salinitas Air  dapat menggunakan refakto meter ,dengan cara membersihkan permukaan refraktometer menggunakan aquadest kemudian di lap mengunakan  tissue untuk menetralkanya, kemudian air sebanyak 1 tetes menggunakan jari dan diletakkan air tersebut diatas permukaan refraktometer lalu tutup dengan penutup alat tersebut hingga rapa. Dibaca angka yang tertera di layar yang merupakan nilai salintas dari perairan.pengambilan sampel  air dg akua gelas kemudian meneteskan setidanya dua tetes  Air pada permukan alat tersebut Setelah itu pengamatan supaya diketahui hasilnya.pengukuran, nya juga dilakukan pada 4 kolam tambak   yang berbeda.
3.5. Teknik Pengumpulan Data
Pada prosedur praktikum pengumpulan data dilakukan dengan melalui 2 cara pengumpulan data. Adapun data tersebut dapat diperoleh dengan menggunakan data primer dan data sekunder.
3.5.1. Data Primer
Pada data primer adalah data kita yang diperoleh langsung dari lapangan itu sendiri dimana tempat kita melakukan praktikum tersebut.
3.5.2. Data Sekunder
Berbeda halnya pada data primer, pada data sekunder data yang kita peroleh tersebut adalah dari data yang telah dilakukan oleh karyawan tambak terlebih dulu, yang sudah mempunyai data cukup jelas dari sebuah perairan kolam tambak  yang akan kita lakukan praktikum.
3.5.3.Penentuan lokasi sampling
Lokasi sampling yang telah ditentukan tersebut disebuah kolam yang terletak didesa Delegan. Dimana dalam kolam tersebut kita melakukan praktikum berupa pengambilan sampel air, pada petak  empat kolam tambak  yang berbeda diantaranya pada koalm pertama daerah yang dilakukan praktikum terletak ditengah  kolam, sedangkan pada kolam tambak ke dua lokasinya di pingir kolam tambak, dan kemudian pada kolam tambak selanjutnya pengembilan sempelm air hampr ketengah dan bagian pingir  ujung kolam tambak .
3.6 Analisa Data
Data-data yang diperoleh dari hasil praktikum lapang yaitu parameter kualitas air secara fisika, kimia, dan biologi, dapat kita simpulkan dalam bentuk tabel dan kemudian dibahas secara deskriptif untuk diambil suatu kesimpulan.

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1              Deskripsi Kolam Pengamatan
4.1.1. Kolam Tambak
Tambak adalah suatu ekosistem buatan manusia, merupakan lahan dekat pantai yang dibendung dengan pematang-pematang keliling sehingga membentuk sebuah kolam berair payau. Menurut Murahman (1996) tambak merupakan sumber daya buatan berbentuk petakan tambak berisi air payau yang digunakan untuk memelihara ikan. Sedangkan Anggoro (1983) menyatakan bahwa tambak merupakan suatu ekosistem perairan di wilayah pesisir yang dipengaruhi oleh teknis budidaya, tata guna lahan dan dinamika hidrologi perairan di sekitarnya.
Produksi hayati perairan tambak sangat ditentukan oleh kesuburan tambak dimana  merupakan modal dasar bagi kelangsungan perekonomian serta penopang kelancaran proses-proses sub sistem pada ekosistem perairan tambak secara keseluruhan. Pada produktivitas tambak ditentukan oleh sarana produksi dan kualitas habitat, dimana habitat tambak selalu mengalami perubahan sesuai dengan keseimbangan dinamik faktor lingkungan yang mempengaruhinya (Tseng, 1987; Zaidi, 1992).


4.1.2.  Persyaratan Lokasi Tambak
Salah satu syarat dalam budidaya payau adalah pemilihan lokasi. Hal ini dikarenakan pemilihan lokasi merupakan langkah awal dalam budidaya. Pemilihan lokasi didasarkan pada evaluasi kesesuaian fisik serta evaluasi sosial ekonomi amsyarakat. Evaluasi kesesuaian fisik meliputi tekstur tanah, pH tanah, bahan organic tanah, salinitas, suhu, kecerahan, derajat keasaman (pH) air, oksigen terlarut (DO), ammonia (NH3), Nitrit (NO2), Nitrat (NO3), BOD (Biological Oxygen Demand), Plankton, Iklim, Sumber Air, Pasang Surut, serta Topografi dan Elevasi (Supratno T, 2006).
Elevasi calon lokasi tambak terhadap permukaan air laut, dicari yang masih berada di daerah pasang surut. Ketinggian seluruh tempat itu tidak boleh melebihi tinggi permukaan air pasang tertinggi (misalnya tempat yang letaknya terlaluh jauh ke pedalaman), dan juga tidak boleh kurang (lebih rendah) dari pada tinggi permukaan air surut terendah (misalnya tempat-tempat yang merupakan “kantong” atau cekungan berpaya-paya), sekalipun masih dekat dengan pantai (Soeseno, 1983).
Lokasi yang cocok untuk tambak akuakultur payau adalah pada daerah sepanjang pantai (beberapa meter dari permukaan air laut) dengan suhu rata-rata 26-28 derajat C. Tanah yang ideal untuk tambak udang adalah yang bertekstur liat atau liat berpasir, karena dapat menahan air. Tanah dengan tekstur ini mudah dipadatkan dan tidak pecah-pecah. Tekstur tanah dasar terdiri dari lumpur liat berdebu atau lumpur berpasir, dengan kandungan pasir tidak lebih dari 20%. Tanah tidak boleh porous (ngrokos).Jenis perairan yang dikehendaki oleh udang adalah air payau atau air tawar tergantung jenis udang yang dipelihara.
Ekosistem air yang terdapat di darat (inland water) secara umum di bagi atas 2 yaitu perairan lentik (lentik water), atau juga disebut sebagai perairan tenang, misalnya danau, rawa, waduk, situ, telaga dan sebagainya dan perairan lontik (lontic water), disebut juga sebagai perairan berarus deras, misalnya sungai, kali, kanal, parit dan sebagainya. Perbedaaan utama antara perairan lontik dan lentik adalah dalam kecepatan arus air (Barus, 2003)
5.1.3. Tambak Intensi
Menurut Anonim (2011) Tambak intensif adalah tambak dengan pematangsemen (beton), dengan pompa air, kincir, pakan 100% pelet dan tingkat penebaran diatas 40.000 per hektar. Target panen minimal 1 ton.
Jenis kolam pengamatan adalah kolam tarpal plastik, yaitu kolam yang bagian pinggir dan dasarnya dari tanah tetapi di bagian atasnya di lapisi tarpal plastic. Kolam ini berbentuk empat persegi panjang.Di bagian pematang sebelah selatan terdapat pohon sebagai naungan. Air yang masuk ke kolam cukup deras dengan input sebelah barat dan output sebelah timur. Sumber air pada kolam tersebut berasal dari  sumur bor yang berada di sungai yang ada dipinggir kolam dengan warna air keruh, jenis tanah adalah liatberlumpur.
Di tambak  tersebut merupakant tempat pembudidayaan udang vanamei secara intensif,  daerah tambak tersebut terletak di daerah pesisir  dekat laut dan muara sungai, hal ini dimaksudkan agar mempermudah pengambilan air sebagai sumber pengairan untuk tambak udang tersebut, begitupun dengan pembuangan airnya yang dimaksudkan agar air limbah yang dihasilkan dari tambak dapat dibuangke laut.    Meskipun begitu, pekerja-pekerja di tempat tersebut telah menyediakan saluran khusus untuk pemasukan air dan pembuangan air  agar limbah-limbah tersebut tidak mengakibatkan gangguan yang besar terhadap ekosistem yang ada dilautan sekitar tambak tersebut.
Persiapan sarana seperti tambak dilakukan dengan cara pengeringan kemudian pengapuran dan selanjutnya pengairan, pengisian air  tambak dengan menggunakan  sumber air payau yang di bor berada di pingir muara sunagi kolam tambak  tempat tersebut. Dalam setiap tambak, memiliki kincir yang bervariasi. Salah satu tambak yang kami amati yang ada di daerah tersebut dipasangkan dengan 8 kincir yang disebar sedemikian rupa agar dapat melakukanfungsinya dengan maksimal. Kincir yang digunakan terdiri dari dua jenis yaitu, kincir dengan 2 daun dan kincir dengan 4 daun. Menurut pegawai tambak tersebut, pergantian air dapat dilakukan apabila pada permukaan tambak terdapat banyak gumpalan busa coklat.
Di  tambak Delegan memiliki setidaknya 4 tambak fungsional yangmasing-masing berukuran 6500m/segi  dengan kedalaman sekitar 2 meter benih udang vaname yang di budidayakan di tambak Delegan tersebut dipilih dari bibit-bibit yang dipasok dari daerah  Suma, Rembang,  Jawa Tengah.
4.1.4. Persiapan Tambak
Kegiatan budidaya tidak lepas dari persiapan baik itu persiapan lahan maupun persiapan sarana-prasarana. Persiapan lahan sangat pernting karena merupakan langkah awal dari kegiatan budiaya dan merupakan titik kunci kesuksesan budidaya. Hal ini dikarenakan lahan merupakan salah satu factor pembatas kegiatan budidaya. Jika lahan yang digunakan tidak sesua dengan kehidupan udang maka kegiatan budidaya akan terhambat. Maka dari itu kegiatan budidaya pembesaran udang Vanamei Tmbak Delegan Kabupaten Gersik  melakukan persiapan yang matang dalam kegiatan budidaya.
Kegiatan budidaya pembesaran udang Vanemei di Tmbak Delegan Kabupaten Gersik sedikit berbeda dengan kegiatan budidaya udang pada umumnya. Hal ini dikarenakan kegiatan budidaya dilakukan didaerah lahan berpasir. Maka dari itu dibuatlah rekayasa sistem budidaya Biocrite. Konstruksi biocrite diterapkan agar tanah lahan pasir (yang sebelumnya tidak mampu menahan air) menjadi mampu dan berfungsi dalam menahan air. Sistem biocrite ini menggunakan plastic poly Etheline (PE) .Tambak berlapisan plastic poly Etheline (PE) atau tarpal yang di gunakan sebagi dasar dan dinding kolam tambak untuk menahan air.
Persiapan tambak pada budidaya pembesaran udang Vanamei  dilahan pasir pantai dilakukan melalui beberapa tahap:
a.      Evaluasi kondisi plastik dasar tambak dan pematangnya.
Kontruksi dasar tmbak biocrite yang menggunakan plastik maka diperlukan pengecekan setiap akan dilakukan kegiatan budidaya. Tujuannya untuk memastikan bahwasanya palstik yang digunakan tidak mengalami kebocoran. Jika plastik PE yang digunakan mengalami kebocoran maka akan sangat mempengaruhi debit ari di tambak dan akibatnya akan berpengaruh pada kondisi udang.
Jika debit air sangat rendah maka fluktuasi suhu perairan akan sangat tinggi. Akibatnya akan berpengaruh pada kadar DO perairan. Maka dari itu diperlukan pengecekan ulang setiap akan melakukan pengisian air tambak. Jika terjadi kebocoran plastic maka diperlukan penembelan.
Selain kebocoran plastik persiapan lainnya adalah perbaikan pematang. Sifat pasir yang tidak kuat akan membuat pematang cepat mengalami kerusakan. Selain itu kerusakan pematang dapat disebabkan oleh tekanan air yang menginterusi sepanjang pematang.
Biasanya kerusakan pematang sering terjadi pada musim penghujan. Diperlukan cara yang tepat untuk memperbaiki pematang agar dapat berfungsi dengan baik dan tidak mudah rusak. Salah satu cara mengatasinya adalah dengan membongkar beton bagian pematang yang longsong dan melakukan checking plastik PE dasar beton (Triyatmo, 2010). Diperlukan pemadatan pasir pematang sehingga harapannya dapat mengurangi celah yang mengakibatkan air hujan mengumpul pada pematang. Pasir pematang yang padat ini akan memperkuat pematang kolam.
b.      Pengeringan dan pencucian dasar tambak
Pengeringan dan pencucian dasar tambak sangat penting untuk dilakukan sebelum lahan tambak diisi oleh air. Pengeringan ini ditujukan agar dasar tambak menjadi bersih baik dari kotoran pakan maupun dari bibit penyakit yang mungkin tertinggal. Dilakukan pencucian tambak khususnya plastik PE agar dapat bertahan lama dan bersih. Pencucian biasanya mengandalkan air hujan, namun jika tidak terjadi hujan maka hanya dilakukan pembersihan sampah didasar tambak.
c.       Penyiapan tetumbuhan dasar tambak.
Tambak lahan tanah pasir yang dibiarkan beberapa minggu akan cepat ditumbuhi oleh rumput. Maka dari itu diperlukan pembersihan rumput maupun tumbuhan liar.
d.      Perataan tanah dasar tambak.
Setelah kegiatan budidaya biasanya keadaan tanah dasar akan mengalami kerusakan karena adanya erosi yang disebabkan oleh air tambak maka dari itu diperlukan perbaikan tanah dasar tambak. Jika dalam kegiatan tambak konvensional dasarnya menggunakan tanah biasa sehingga diperlukan pengelolaan tanah yang cukup lama, maka dalam tambak biocrite kegiatan itu dilakukan dan hanya melakukan perataan tanah dasar. Bagian-bagian plastik dasar yang tersingkap harus ditutup dengan plastik lalu diratakan.
e.       Pembenahan dan persiapan central drainase
Pembenahan dan persiapan central drainase sangat diperlukan agar nantinya kegiatan budidaya tidak terhambat. Jika central drainase rusak maka akan sangat menganggu dalam pembuangan limbah dasar. Yang sangat dikawatirkan jika terjadi akumulasi limbah dasar dan bahkan pengadukan limbah. Maka dari untuk menanggulangi terjadinya akumulasi limbah dasar diperlukan perbaikan central drainase. Bahan-bahan yang diperlukan dalam perbaikan central drainase adalah paralon 20 buah yang diletakkan didalam maupun diluar.
f.       Pemasangan Skat Balk
Skatbalk dipasang untuk menutup pintu air. Skatbalk terdiri dari dua bagian dalam dan skat bagian luar.
g.       Pemasangan kincir air
Kincir sangat penting dalam kegiatan budidaya udang. Pemberian kincir dtujukan untuk menyuplay DO perairan sehingg dapat dimanfaatkan oleh udang dalam kegiatan metabolism. Selain itu kincir dapat berfungsi dalam pengadukan air sehingga air teraduk sempurna. Sebaiknya kincir dipasang sebelum air mulai dialirkan kedalam tambak.
h.      Pengisian air pada petak tambak
Pengsian air pada petak tambak yang berukuran 6500 meter persegi diperlukan waktu 2 hari satu malam. Namun dalam pengisian air tambak sangat dipengaruhi oleh ketersediaan air yang dihasilkan dari reservoir air laut.
i.          Pemupukan, pengapuran, pemberian fermentasi,
Pemupukan dilakukan 2-3 hari sebelum penebaran. Biasanya pupuk yang digunakan adalah pupuk komersil seperti urea, TSP, dan KCL. Pemupukan sangat diperlukan dikarenakan struktur tambak biocrite dasarnya dari pasir dimana sangat miskin unsur hara.


4.1.5. Penyediaan dan Penebaran Benur
            Kegiatan hatchery yang tidak dapat berjalaan lagi mengakibatkan suplay benur berasal dari daerah lain. Biasanya benur  udang didapatkan dari perusahaan pembenihan biru laut Katulistiwa Lampung maupun dari Jawa Timur. Selain itu benur udang biasanya juga didapatkan dari para penyuplay pakan. Kelebihan dari kerjasama pengadaan benur dengan penyuplay pakan adalah adanya pengawasan dari penyuppali pakan. Jika nantinya benur-benur yang didatangkan terjadi permasalahan maka penyuplay pakan akan mendatangkan tim ahlinya untuk mengatasi permasalahan tersebut.
            Ukuran benih yang biasanya didatangkan adalah PL 10-20 dengan berat 0,01-0,02 gram. Pengangkutan benur dilakukan dengan suhu 23 derajat C dengan kadar DO 20 ppm. Diperlukan aklimatisasi di kolam aklimatisasi. Kolam aklimatisasi ini ditujukan untuk mengetahui kualitas benur baik atau tidak. Biasanya aklimatisasi dilakukan selama kurang lebih 5 hari. .
            Salinitas yang digunakan dalam aklimatisasi adalah sebesar 15-20 ppt. maka dari air laut harus dicampur dengan air tawar untuk mendapatkan salinitas yang di iningkan. Dalam bak aklimatisasi diberi pakan 2 kali sehari dan terus ditambah sampai 3 kali sehari. Dilakukan penurunan air sekitar 10 % sehingga 5-7 hari salinitasnya sama dnegan yang ada di tambak.
            Setelah proses aklimatisasi selesai maka benur dapat dipanen. Biasanya panen benur dilakukan pada pagi hari atau sore hari. Tujuannya adalah menghindari suhu perairan maupun suhu lingkungan yang tinggi. Panen benur dilanjutkan dengan penebaran benur ke tambak budidaya. Petak tambak dengan ukuran 6500 meter persegi diisi dengan padat tebar benur sekitar 430.000-400.000. dengan kata lain 130 okor/meter.
            Ketiak masih benur pakan yang paling cocok adalah pakan alami. Benur yang telah dipanen biasanya berukuran PL-17 hingga PL-28. Penebaran benur dilakukan pada pagi hari atau sore hari pada saat cuaca tidak terjadi hujan. Hal ini dikarenan ketika terjadi hujan, maka kualitas air akan berubah secara drastic sehingga berpengaruh terhadap kondisi benur. Langkah-langkah dalam penebaran benur adalah sebagai berikut:  Meletakkan plastik yang berisi benur pada air tambak, Membiarkan selama 5 menit, Membuka plastik kemasan benur tanpa mengeluarkan benur dari     kemasan tersebut, Membiarkan selama 5 menit sambil disirami dengan air tambak, Mengangkat plastic kemasan secara cepat dengan posisi mulut kemasan berada dibawah. Langkah-langkah tersebut ditujukan untuk meminimalisir terjadinya kematian benur. Walaupun sudah dilakukan aklimatisasi di bak aklimatisasi namun dalam penebaran masih diperlukan aklimatisasi tambahan.
4.1.6. Hama dan Penyakit
            Banyak sekali jenis penyakit yang dapat menyerang udang mulai dari White spot sindrom virus (WSSV), VNN, dll. Biasanya penyakit-penyakit tersebut menyerang udang karena kondisi lingkugan yang buruk dan juga dikarenakan penyakit bawaan. Udang yang terserang penyakit ataupun sait dapat dideteksi dengan cara langsung (tanpa proses laboratorium). Misalnya tingkah laku udang ketika air digerak dengan memutar kearah tertentu.     
            Hama merupakan salah satu kendala yang sering muncul dan mengganggu kegiatan budidaya. Beberapa hama yang seringkali mengganggu kegiatan budidaya khususnya budidaya payau adalah burung “cangak awu”. Biasanya burung-burung tersebut memakan ikan atau udang di kolam budidaya. Cara menanggulangi terjadinya seranga hama dapat menggunakan jarring yang diletakkan di atas area tambak.
            Sejauh ini dalam kegiatan budidaya pembesaran udang vanamei di  Tambak Delegan Kabupaten Gwrsik sudah mengalami serangan baik itu penyakit (virus, bakteri, parasit) maupun dari hama (burung). Akan tetapi kegiatan pengendaliaan penyakit sampai saat ini belum dilakukan secara intensif. Terlihat dimana semua tambak tidak diberi jaring. Hal ini dikarenakan tidak ada seranga hama dari burung pengganggu
4.2.Manajemen Kualita Air
Didalam manajemen kualitas air adalah merupakan suatu upaya memanipulasi kondisi lingkungan sehingga mereka berada dalam kisaran yang sesuai untuk kehidupan dan pertumbuhan ikan. Di dalam usaha perikanan, diperlukan untuk mencegah aktivitas manusia yang mempunyai pengaruh merugikan terhadap kualitas air dan produksi ikan (Widjanarko, 2005).
Kualitas air yaitu sifat air dan kandungan makhluk hidup, zat energi atau komponen lain di dalam air. Kualitas air dinyatakan dengan beberapa parameter yaitu parameter fisika (suhu, kekeruhan, padatan terlarut dan sebagainya), parameter kimia (pH, oksigen terlarut, BOD, kadar logam dan sebagainya), dan parameter biologi (keberadaan plankton, bakteri, dan sebagainya) (Effendi, 2003)


4.2.1.Suhu
            Suhu tinggi tidak selalu berakibat mematikan tetapi dapat menyebabkan gangguan status kesehatan untuk jangka panjang, misalnya stres yang ditandai dengan tubuh lemah, kurus, dan tingkah laku abnormal. Pada suhu rendah, akibat yang ditimbulkan antara lain ikan menjadi lebih rentan terhadap infeksi fungi dan bakteri patogen akibat melemahnya sistem imun. Pada dasarnya suhu rendah memungkinkan air mengandung oksigen lebih tinggi, tetapi suhu rendah menyebabkan stres pernafasan pada ikan berupa menurunnya laju pernafasan dan denyut jantung sehingga dapat berlanjut dengan pingsannya ikan-ikan akibat kekurangan oksigen (Irianto, 2005).
4.2.2.Kecerahan
Kecerahan merupakan ciri penentu untuk pencerahan,penglihatan yang mana suatu sumber dilihat memancarkan sejumlah kandungan cahaya.dalam kata lain kecerahan adalah pencerahan yang terhasil dari pada kekilauan sasaran penglihatan,kecerahan merupakan suatu ukuran dimana cahaya didalam air yang disebabkan oleh adanya partikel-partikel kaloid dan suspensi dari suatu bahan pencemaran,antara lain bahan organic dari buangan-buangan industry,rumah tangga,pertanian yang terkandung di perairan ( Chakroff dalam Syukur,2002).
4.2.3. pH (Derajat Keasaman)
pH adalah suatu ukuran keasaman dan kadar alkali dari sebuah contoh cairan. Kadar pH dinilai dengan ukuran antara 0-14. Sebagian besar persediaan air memiliki pH antara 7,0-8,2 namun beberapa air memiliki pH di bawah 6,5 atau diatas 9,5. Air dengan kadar pH yang tinggi pada umumnya mempunyai konsentrasi alkali karbonat yang lebih tinggi. Alkali karbonat menimbulkan noda alkali dan meningkatkan farmasi pengapuran pada permukaan yang keras (iCLEAN, 2007).
4.2.5. DO (Disolved Oxigent)
Oksigen adalah unsur fital yang di perliukan oleh semua organisme untuk respirasi dan sebagai zat pembakar dalm proses metabolisme. Sumber utama oksigen terlarut dalam air adalah penyerapan oksigen dari udara melalui kontak antara permukaan air dengan udara, dan dari proses fotosintesis. Selanjutnya aur kehilangan oksigen melalui pelepasan dari permukaan ke atmosfer dan melalui kegiatan respirasi dari semua organisme (Barus, 2003).
Kadar oksigen terlarut juga berfluktuasi secara harian (diurnal) dan musiman, tergantung pada pencampuran (mixing) dan pergerakan (turbulence) massa air, aktivitas fotosintesis, respirasi, dan limbah (effluent) yang masuk ke dalam air
(Effendi,2003)






4.3. Pengukuran Kualitas Air
4.2.1. Data Hasil Pengukuran Kualitas Air
a. Suhu
NO
Petak Tambak
Suhu
1
Tambak 1
29º C
2
Tambak 2
30ºC
3
Tambak 3
30ºC
4
Tambak 4
30ºC
Hasil yang didapatkan pada pengukuran suhu dapat dilihat pada table dibawah ini





Tabel 1. Hasil Pengukuran Suhu
Dari data di atas sangat jelas terlihat bahwa nilai suhu di kolam ini didapatkan diperairan tersebut yaitu berkisar antara 29°C sampai 30°C, suhu diukur pada saat matahari berada pada puncak dan berkisar diantara pukul 12.00 wib sampai dengan pukul 15.00 wib dan perubahan suhu disuatu perairan dikarenakan adanya pengaruh penyerapan dan pelepasan panas dari teriknya matahari.
                  Suhu pada perairan kolam ini tergolong optimum dikerenakan suhu yang baik bagi suatu perairan untuk pertumbuhan fitoplankton dan organisme lainnya yaitu antara 27°C sampai 31°C, dan suhu yang berubah-ubah dapat mempengaruhi pertumbuhan fitoplankton dan organisme yang ada diperairan tersebut (Irianto, 2005)
b.Kecerahan
            Hasil yang didapatkan pada pengukuran suhu dapat dilihat pada table dibawah ini :
No
Petak Tambak
Kecerahan
1
Tambak 1
30 cm
2
Tambak 2
18 cm
3
Tambak 3
26cm
4
Tambak 4
30 cm




Tabel 2. Hasil Pengukuran Kedalaman
          Apabila disuatu perairan kecerahan berkurang atau cahaya tidak mampu untuk menembus perairan tersebut, maka organisme yang ada di dalam perairan itu akan mengalami stress dan dikit demi sedikit organisme yang ada dalam peairan itu akan punah (mati), dikarenakan kurangnya daya tembus matahari diperairan tersebut dan disebabkan adanya banyak tanaman air yang menghalangi masuknya sinar matahari keperairan, tanaman yang ada dalam perairan itu seperti eceng gondok, kangkung dan sebagainya ( Chakroff dalam Syukur,2002).
Berdasarkan hasil pengukuran, hasil kecerahan yang didapatkan berkisar antara 18cm – 30 cm. Hal ini maíz tergolong normal karena menurut Odum (1993) Bahwa bila kekeruhan disebabkan oleh fitoplanktonk maka usuran kekeruhan merupakan factor productivitas statu perairan.
No
Petak Tambak
pH
1
Tambak 1
6 ppm
2
Tambak 2
7 ppm
3
Tambak 3
6 ppm
4
Tambak 4
7 ppm
c. pH  (Derajat Keasaman)
            Hasil yang diperoleh dalam mengukuran pH dapat dilihat pada tabel dibawah ini :





Tabel 3. Hasil Pengukuran pH
            Skala yang digunakan untuk pengukuran pH yaitu dari 0 sampai 14, jika pH diperairan tersebut 0-14 maka perairan disebut asam dan jika pH diperairan tersebut menunjukkan 7-14 maka perairan itu basa. Hasil yang didapatkan diperairan itu berkisar antara 5 ppm sampai 6 ppm dan ini menunjukkan bahwa pearairan yang telah kita praktikum adalah asam berarti ini menunjukkan pH tersebut masih dapat ditolerir oleh organisme didalamnya. pH yang optimum berkisar antara 6-8 ppm ( Wardoyo, 1981 )


d. Amonia
            Hasil yang diperoleh dalam mengukuran Amonia di air tambak dapat dilihat pada tabel dibawah ini
No
Petak Tambak
Hasil pengukuran Amonia
1
Tambak 1
2,0
2
Tambak 2
1,5
3
Tambak 3
0,5
4
Tambak 4
25̽̽̽̽ ̽  Berbuas




Tabel 3. Hasil Pengukuran Amonia
Amonia merupakan hasil ekskresi atau pengeluaran kotoran udang yang berbentuk gas. Selain itu, amonia bisa berasal dari pakan yang tidak termakan oleh udang sehingga larut dalam air. Amonia baik yang berasal dari ekskresi udang maupun hasil penguraian kotoran zat padat (faeces) dan sisa-sisa pakan udang, selanjutnya dioksidasi oleh bakteri autotrof khususnya Nitrosomonas sp. dan Nitrobacter sp. Amonia tersebut dioksidasi olek bakteri Nitrosomonas sp. menjadi nitrit, kemudian nitrit yang terbentuk dioksidasi lebih lanjut oleh bakteri Nitrobacter sp. dalam proses nitrifikasi.
           
Nitrit beracun bagi udang, karena mengoksidasi Fe2+ dalam hemoglobin, sehingga kemampuan darah untuk mengikat oksigen sangat rendah. Toksisitas dari nitrit yaitu mempengaruhi transport oksigen dalam darah dan merusak jaringan. Kadar nitrit 6,4 ppm NO2-N dapat menghambat pertumbuhan udang putih sebanyak 50 % (Wickins, 1976 dalam Arifin, 2005).
e. Salinitas
            Hasil yang diperoleh dalam mengukuran Salinitas air tambak dapat dilihat pada tabel dibawah ini
No
Petak Tambak
Hasil pengukuran Salinitas
1
Tambak 1
26 ppm
2
Tambak 2
26 ppm
3
Tambak 3
26 ppm
4
Tambak 4
27 ppm




Tabel 3. Hasil Pengukuran salinitas
f. Warna Air
            Hasil yang diperoleh  dalam mengamatan Warna Air tambak dapat dilihat pada tabel dibawah ini

No
Petak Tambak
Warna air
1
Tambak 1
Hijau
2
Tambak 2
Hijau
3
Tambak 3
Hijau
4
Tambak 4
Hijau




Tabel 3. Hasil Pengamatan Warna Air
4.2.5. Manajemen Pakan
Pemberian pakan yang baik merata, dalam arti dapat diusahakan agar satu individu udang dapat memperoleh bagian pakan yang sama dengan individu yang lainnya. Pemberian pakan yang merata menghindari terjadinya kompetisi dalam mendapatkan makanan. Apabila kompetisi dapat dihindari maka kanibalisme dapat dihindarkan.

Frekuensi pemberian pakan pada udang kecil cukup 2 – 3 kali sehari, karena masih mengendalkan pakan alami (Haliman dan Adijaya, 2005). Zaidy (2000) berpendapat, pakan diberikan dengan cara disebar dipermukaan tambak dengan frekuensi 5 – 6 kali sehari. Persentase jumlah pakan yang diberikan mulai dari 50 % saat udang baru beberapa hari ditebar dan 3 % saat udang akan dipanen.
Haliman dan Adijaya (2005) menambahkan, setiap pemberian pakan, 2 – 4 % dari jumlah total pakan yang ditebar harus dimasukkan ke anco. Hal ini merupakan tindakan kontrol terhadap aktifitas memakan udang. Dua jam kemudian, anco dapat diangkat dan diperiksa sisa pakan yang ada dengan demikian dapat diprediksi kebutuhan pakan udang. Ciri-ciri udang kekurangan dan kelebihan pakan yaitu :
Ditjen Kesehatan Ikan dan Lingkungan, Ditjen Perikanan Budidaya (2005), peberian suplemen (feed additive) seperti vitamin, immonostimulan, mineral, HUVA, carotenoid, astaxanthindan probiotik dapat dilakukan yang bertujuan untuk meningkatkan daya tahan tubuh udang yang dibudidayakan. Vitamin C dapat diberikan dengan dosis 3 gram/kg pakan. Bataglucan dapat diberikan 0, 1 gram/kg pakan, sedangkan fucoida dengan dosis 60 – 100 mg/kg berat udang/hari.
Menurut Arifin (2005), pemberian probiotik yang dicampur dengan pakan udang bertujuan untuk :
1.      Menyeimbangkan mikroflora dalam usus, yaitu menekan bakteri yang merugikan.
2.      Bakteri yang hidup di dalam usus akan menghasilkan enzim sehingga diharapkan dapat membantu sistem pencernaan pada udang.
3.      Bakteri mengandung protein yang cukup tinggi, sehingga dapat dimanfaatkan oleh udang.
4.      Untuk menghasilkan kekebalan tubuh pada udang. 

KESIMPULAN DAN SARAN
5.1.Kesimpulan
Berdasarkan hasil dan pembahasan diatas, maka dapat diambil kesimpulan sebagaiberikut :
Ø   Kualitas air diperairan tersebut seperti DO, pH, Kecerahan, Kedalaman, dan sebagainya itu sangat mempengaruhi kelangsungan hidup organisme yang ada diperairan itu dan untuk kadar kualitas air diperairan harus baik dan memenuhi syarat untuk dapt melakukan kegiatan budidaya.
Ø  Berdasarkan hasil yang didapatkan maka kolam tersebut tergolong dalam keadaan baik artinya kolam tersebut masih dapat mendukung kehidupan organisme didalamnya.
5.2. Saran
Agar didapatkan hasil yang maksimal dari budidaya Udang Vanamei maka diperlukan manajemen yang baik pada kolam budidaya tersebut terutama dalam hal Sistem Teknologi Budidaya Manajemen kualitas air, dan Manajemen Pemberian Pakan yang merupakan faktor penting  dalam kegiata dibudidaya.
Untuk kelancaran praktikum harus diperoleh data yang maksimal dan dalam melakukan praktikum harus dengan teliti,


DAFTAR PUSTAKA
Anggoro, S. 1983. Permasalahan Kesuburan Perairan Bagi Peningkatan Produksi kan di Tambak. Paper Kolokium. Jurusan Ilmu Perairan. Fakultas Pasca Sarjana. IPB. Bogor
Supratno, T. 2006. Evaluasi Lahan Tambak Wilayah Pesisir Jepara Untuk Pemanfaatan Budiaya Ikan Kerapu. Tesis Program Studi Magister Manajemen Sumberdaya Pantai. Unversiatas Diponegoro. Semarang . http://zaedkfc.blogspot.com/2012/06/laporan-praktikum-manajemen-akuakultur.html
Supratno, KP, T dan Kusnendar, E. 2001. Teknologi dan Kelayakan Usaha Budidaya Kerapu Tikus di Tambak. Balai Besar Pengembangan Budidaya Air Payau Jepara. Prosiding
Lokakarya Nasional 2001 Pengembangan Agribisnis Kerapu. BPPT, Jakarta. http://zaedkfc.blogspot.com/2012/06/laporan-praktikum-manajemen-akuakultur.html
Triyatmo, B. 2010. Teknik Budidyaa Udang dalam Tambak Biocrite (studi Lapangan Di Tambak Udang Pantai Selatan Yogyakarta). Jurusan Perikanan Fakultas Petanian. Universitas Gadjah Mada. Yogyakarta http://zaedkfc.blogspot.com/2012/06/laporan-praktikum-manajemen-akuakultur.html

Tseng, W.Y. 1987. Shrimp Marineculture. Practical Manual. Dept. of Fisheries. Potmoresby.

Effendi, H. 2003.Telaah Kualitas Air.Kanisius. Yogyakarta             http://zaedkfc.blogspot.com/2012/06/laporan-praktikum-manajemen-           akuakultur.html
Ferianita, M., Fachrul, Herman H., Listari C., S. 2005. Komunitas Fitoplankton      Sebagai Biogor. http://zaedkfc.blogspot.com/2012/06/laporan-praktikum-      manajemen-akuakultur.html

Indikator Kualitas Perairan Teluk Jakarta.Seminar Nasional MIPA,             FMIPA-Universitas Indonesia. Depokhttp://zaedkfc.blogspot.com/2012/06/laporan-praktikum-manajemen-akuakultur.html

Mahmudi, M. 2005. Produktivitas Perairan. Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan            Universitas Brawijaya. Malang
Arfiati, D. 2001. Diktat Kuliah Limnologi. Kimia Air. Fakultas Perikanan. Universitas Brawijaya. Malang
Dianthani, D. 2003. Identifikasi Jenis Plankton Di Perairan Muara Badak, Kalimantan       Timur. Program Pasca Sarjana /S3.Institut Pertanian Bogor.2003
Kordi K., M.G.H. dan A.B. Tancung.2007. Pengelolaan Kualitas Air dalam Budidaya      Perairan. Rineka Cipta. Jakarta
iCLEAN, 2007. pH.http://www.mysaltz.net. Diakses tanggal 26 Mei 2009.
Irianto, A. 2003. Probiotik Akuakultur. Gadjah Mada University Press. Yogyakarta
Subarijanti, H. U. 2005. Pemupukan dan Kesuburan Perairan. Fakultas Perikanan. Universitas Brawijaya. Malang
http://infoichal28.blogspot.com/2013/02/laporan-tekhnik-pembesaran-udang_661.html      

 http://perikananseruyan.blogspot.com/2011/07/budidaya-udang-vannamei.html